SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Aksi penolakan kerjasama pembuangan sampah dari luar Pandeglang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bangkonol, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, masih akan terus bergulir.
Kelompok Pandeglang Hitam, secara tegas dan siap konsisten menolak sampah dari luar Pandeglang, apapun alasan Pemkab Pandeglang. Bahkan, setelah beberapa kali berunjuk rasa kini mereka memperluas konsolidasi dan akan mengerahkan massa aksi yang lebih banyak, untuk menduduki Kantor Setda dan Bupati Pandeglang.
Korlap I Pandeglang Hitam, Refaldi Hendrika Bayu Putra mengatakan, pihaknya siap konsisten dan akan melakukan aksi massa susulan dengan mengerahkan massa yang lebih banyak.
“Kami siap konsisten, tolak sampah dari luar Pandeglang. Itu merusak lingkungan, dan mencemari masyarakat sekitar,” kata Refaldi, Minggu (24/8/2025).
Katanya, Pemerintah Daerah sudah mengkhianati nurani dan kepercayaan masyarakat. Yang seharusnya Bupati, Wakil Bupati dan jajaran pejabat di Kabupaten Pandeglang berpihak pada kebutuhan dasar masyarakat, malah sebaliknya.
Kebijakan atau keputusan kerjasama dengan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), terkait pembuangan sampah, ditegaskannya itu keputusan yang keliru.
Baca Juga: Tolak Sampah Tangsel, Masyarakat Pandeglang Galang Donasi Menuju Aksi Akbar 3 September
“Bukannya menata dan membenahi daerah, dengan menggali potensi pendapatan dari sektor lain, ini malah begitu (menerima sampah dari luar,red),” tukasnya.
Pemuda lainnya yang merupakan bagian dari Pandeglang Hitam, Ilham Mutakhir menyatakan, banyak potensi daerah yang dapat digali untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), seperti sektor pertanian, pariwisata, industri, UMKM atua yang lainnya.
“Ambil kebijakan dengan bijak, dan jangan menyengsarakan masyarakat,” tandasnya.
Diketahui, aksi massa menolak kerjasama pembuangan sampah dari luar Pandeglang, kembali digelorakan. Kini, sekelompok pemuda yang mengatasnamakan “Pandeglang Hitam” kepung dan duduki Kantor Bupati dan Setda Pandeglang, Kamis (21/8/2025).
Massa aksi yang datang sekira pukul 15.30 WIB, langsung dihadang oleh anggota Satpol-PP dan personel Polres Pandeglang, yang membuat barikade di tangga depan masuk ke dalam perkantoran.
Sayangnya, massa aksi yang sempat memaksa masuk ke dalam area perkantoran sempat dorong-dorongan dengan petugas keamanan, dan mengakibatkan pintu masuk Kantor dan Setda Pandeglang copot.
Baca Juga: Tolak Sampah Tangsel, Massa Pandeglang Hitam Duduki Kantor Bupati Pandeglang
Korlap I Pandeglang Hitam, Refaldi Hendrika Bayu Putra mengatakan, kedatangannya ke lokasi tersebut untuk menyampaikan aspirasinya menolak kerjasama pembuangan sampah dari luar Pandeglang.
“Kami menolak kerjasama pembuangan sampah dari luar Pandeglang, tanpa syarat,” kata Refaldi, Kamis (21/8/2025).
Katanya, penolakan itu dilakukan karena ia tidak mau tanah kelahirannya tercemar dan lingkungannya juga rusak, hanya karena kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
Ditegaskannya, sebagai warga asli Pandeglang, ia menambahkan kemajuan daerah yang baik dan lebih maju, dengan mengoptimalkan potensi daerah di sektor lain, seperti pariwisata, pertanian dan lainnya.
“Kasihan dong masyarakat Bangkonol dan sekitarnya, yang akan tercemar,” teriaknya lagi.
Seorang massa aksi Ilham Mutakhir, meneriakkan, aksi itu bentuk kepedulian dan solidaritas sesama warga Pandeglang.
“Kami tetap menjaga etika, dan ini aksi damai. Jika tuntutan ini tidak diindahkan, kami akan tetap konsisten dan massa aksi akan terus bertambah,” teriaknya.
Aksi sempat bersitegang, karena diduga seorang pejabat melontarkan kata yang kurang pantas yaitu “anjing”. Sehingga, kata itu memancing reaksi kemarahan pendemo.
Bahkan, pendemo bersikukuh ingin berdialog dengan oknum pejabat tersebut, serta mendesak meminta maaf atas perkataannya itu.
Setelah menempuh dialog yang cukup alot, yang difasilitasi oleh pihak kepolisian. Akhirnya, disepakati bahwa pejabat yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf kepada pendemo.
Pada akhirnya, selain membentangkan poster dan spanduk berisi tuntutan. Pendemo pun merangsek masuk ke lobby gedung Kantor Bupati dan Setda Pandeglang.
Kemudian, mereka meneriakkan yel-yel dan tuntutannya, sambil menaiki meja resepsionis dan sebagian lainnya naik ke atas kursi yang ada.
Mereka juga sempat menyanyikan beberapa lagu perjuangan, serta berorasi. Walau dalam pengawalan ketat aparat kepolisian. Lalu berfoto bersama, serta membubarkan diri, seraya mengancam akan datang kembali dengan jumlah massa yang lebih banyak. (mardiana)

















