SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Bantu lestarikan kesenian kuno Dodod, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Bangsa (Uniba) Serang, melakukan pengabdian di Kampung Pamatang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, dengan membantu para seniman Dodod untuk mengenalkan kesenian yang sudah ada sejak abad ke-18 itu kepada siswa Sekolah Dasar (SD).
Dipimpin oleh Dr Umalihayati, kegiatan oleh dosen dan mahasiswa Uniba itu meliputi penelitian serta mengenalkan Dodod kepada siswa Sekolah dasar.
“Kami melakukan pengabdian kepada masyarakat disini, didanai oleh DPPM Kemdikti Saintek Tahun Anggaran 2025,”kata Dr Umalihayati, Rabu (3/9/2025).
Ditambahkan oleh Dosen Uniba yang juga warga asli Kampung Pamatang, Aditya Rachman, pengabdian yang dilaksanakan oleh kampusnya bertujuan untuk merevitalisasi kesenian khas Kampung Pamatang yaitu Dodod.
Karena, ini kesenian sakral dengan alat musik ritmik satu satunya yang ada di Pandeglang, dan sudah diwariskan turun temurun dari leluhur sejak abad ke-18.
“Maka sangat penting untuk tetap dijaga kelestariannya,” tandasnya.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Masih Melanda, Warga Desa Idaman Pandeglang Butuh Penanganan Serius
Dodod sendiri, menurut Ketua Sanggar Dodod Sanghyang Sri, Surani, kesenian ini sudah ada sejak tahun 1858 saat kampung tersebut masih menjadi bagian dari Desa Majau, hingga kini Kampung Pamatang sudah terpisah dan masuk wilayah Desa Mekarwangi. Dodod diciptakan sebagai bagian dari ritual pertanian padi.
“Dodod itu dari kata Dadasar. Artinya jalma geus boga dadasar mah moal ngaleok (Manusia kalau sudah punya dasar tidak mungkin menyimpang),” katanya, sambil menyatakan kesenian Dodod adalah salah satu petunjuk dari leluhur bahwa dalam menjalani kehidupan bernegara, kehidupan sehari hari termasuk kehidupan beragama, manusia harus memiliki dasar pijakan yang kuat agar individu maupun komunitas tidak kehilangan arah.
“Selain itu, Dodod juga mengajarkan kepada kami tentang keikhlasan, karena ada pesan dan amanat dari leluhur bahwa dalam mementaskan Dodod kami tidak diperkenankan untuk menetapkan tarif,” kata Eni, panggilan dari Surani.
Ia melanjutkan, Dodod sendiri biasanya dipentaskan selama proses penanaman padi. Yang pertama adalah proses penanaman padi atau dikenal dengan tatanen, untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar tanaman padi yang ditanam bisa tumbuh dengan subur.
Selanjutnya, dipentaskan pula dalam proses ngalaksa atau proses pada pertengahan musim tanam padi dengan tujuan mengusir roh jahat yang bisa mengakibatkan datangnya hama serta penyakit yang mematikan tanaman padi.
“Prosés ritual terakhir, biasanya Dodod dipentaskan dalam Rosulan atau proses panen serta menyimpan padi ke dalam lumbung,” terangnya.
Baca Juga: Desa Bandung Pandeglang Siap Expor Ikan Mas Sinyonya dan Udang Sawah ke Papua Nugini
Untuk informasi, kesenian Dodod asal Kampung Pamatang ini mengkombinasikan antara seni tari dengan alat musik ritmik berupa bedug, angklung dan gong, atau dikenal dengan sebutan goong.
Ada perbedaan ukuran bedug dan angklung, yang dipakai dalam Dodod. Sehingga menimbulkan suara instrument yang beragam.
Saat ini menurut Suyanto, salah satu anggota sanggar Dodod di Pamatang, kesenian ini mayoritas ditekuni oleh orang orang tua. Oleh karena itu, ia menyambut baik pengabdian dari Uniba yang ingin membantu pihaknya untuk melestarikan kesenian, yang sesuai amanat leluhur Kampung Pematang, harus diteruskan dan tidak boleh sampai punah.
Saat melakukan pembinaan di Kampung Pamatang, Uniba juga mengajak para seniman Dodod, untuk mementaskan dan mengajarkan kesenian Dodod kepada anak anak sekolah dasar di SDN Mekarwangi 2. (mardiana)

















