SATELITNEWS.COM, SERANG – Memasuki akhir triwulan ketiga atau pertengahan semester kedua, nilai investasi di Provinsi Banten sebesar 60 persen dari target yang ditentukan.
Ditahun 2025 ini, Pemprov Banten menargetkan nilai investasi yang masuk sebesar Rp119 Triliun, namun sampai minggu terakhir September, nilai investasi yang sudah masuk baru mencapai Rp60,7 Triliun.
Nilai tersebut, mendapatkan sorotan dari pengamat kebijakan publik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Doktor Ahmad Sururi. Dia menilai, target investasi yang ditetapkan tidak akan tercapai apabila dikaitkan dengan waktu yang ada.
Oleh karena itu, dia meminta Gubernur Banten Andra Soni segera melakukan pembenahan terhadap sistem pemerintahan dan sistem birokrasi, serta mematangkan kajian terkait potensi di masing-masing kabupaten/kota yang ada.
“Kemungkinan tidak tercapainya target investasi di Banten diantaranya infrastruktur terbatas, kurangnya koordinasi lembaga, masalah birokrasi dan tingkat upah yang tinggi. Meski demikian, kita patut apresiasi sudah lebih dari 50 persen tercapai,” katanya, Minggu (21/9/2025).
Sururi mengingatkan, investasi merupakan salah satu potensi penambahan keuangan bagi kas daerah. Namun, apabila Pemprov Banten tidak melakukan kajian secara matang, investasi bisa merusak wilayah dan mengubur perekonomian masyarakat.
Baca Juga: Tiga Jabatan Eselon II Masih Kosong, Pemprov Lakukan Pemetaan Pegawai
“Pemprov Banten harus memastikan bahwa implementasi regulasi perlindungan lahan pertanian dan perdesaan direalisasikan, termasuk tentu saja penataan ruang yang harus seimbang antara investasi dan kawasan lingkungan,” tambahnya.
Dia mengatakan, ada beberapa lokasi di kabupaten/kota di Banten yang bisa dijadikan sebagai kawasan industri. Potensi yang ada itu, kata dia, harus bisa dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat pribumi.
Selain itu, sektor investasi juga harus bisa menjadi pintu masuk mengatasi kesenjangan atau disparitas antara wilayah Banten Selatan dengan Banten Utara. Karena sampai saat ini kesenjangan itu masih jelas terlihat dan seolah tanpa ada solusi.
“Potensi Banten di wisata dan perhotelan cukup tinggi, industri di Cilegon, Tangerang juga sudah memadai, sekarang tinggal fokus pada ekonomi kreatif di Banten yang harus ditingkatkan terutama untuk mendorong investasi di daerah utara (Lebak dan Pandeglang-red),” ujarnya.
Sururi mengatakan, banyak persoalan yang ditemukan dilapangan terkait investasi, diantaranya banyak oknum tidak berkepentingan ikut mengganggu dan mencoba mencari keuntungan pribadi, seperti makelar tanah, preman, oknum penegak hukum, dan lainnya.
“Terkait hal ini, kolaborasi dengan penegak hukum dan monitoring evaluasi berkelanjutan adalah kuncinya. Terpenting kebijakan investasi di Banten harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat, jangan hanya menjawab kebutuhan investor,” ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Evaluasi Jurusan SMK, Dindikbud Banten Lakukan Optimalisasi Kejurusan
“Fokus bahwa investasi Banten mampu meminimalkan gap atau kesenjangan utara-selatan, ini PR besar Pemprov Banten,” tutupnya.
Beberapa waktu lalu, Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan, iklim investasi di Banten berjalan baik dan menyumbang terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Banten hingga lima persen lebih.
“Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Provinsi Banten pada triwulan II tahun 2025 mencapai 5,33 persen. Sedangkan realisasi investasi sudah mencapai Rp60,7 Triliun atau 60 persen dari target Rp119 Triliun. Swasta sangat berperan dalam pembangunan,” ungkapnya.
Sekedar diketahui, berdasarkan hasil survei atas perlambatan perekonomian global dan terhambatnya pasokan bahan baku, sekitar 44,56 persen dunia usaha tidak akan melakukan ekspansi pada lima tahun mendatang.
Potensi Provinsi Banten cukup besar karena memiliki jumlah penduduk Provinsi Banten pada lima besar nasional. Sekitar 80 persen produk domestik regional bruto dari sektor industri pengolahan.
Provinsi Banten juga berkontribusi terhadap ekspor non-migas delapan nasional dan ada 17 kawasan industri besar dan backlog kepemilikan rumah mencapai 12,7 juta. Provinsi Banten juga memiliki potensi di sektor pariwisata. Serta 6,2 juta penduduk Provinsi Banten merupakan angkatan kerja. (adib)
























