SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Akibat harganya yang melonjak dari Rp 36 ribu per kilogram menjadi Rp 40 ribu per kilogram, sejumlah pedagang sayur di seputaran Pandeglang mengaku tak berani menjual atau mengecer daging ayam. Mereka takut, daging ayam itu tak laku sehingga mereka rugi.
“Bagaimana mau menjual, kalau dari pasarnya harganya sudah Rp 40.000 per kilogram. Saya harus jual berapa kalau begitu,” kata Eman, seorang pedagang sayur, Sabtu (20/9/2025).
Untuk mensiasatinya, Eman mengaku menerapkan sistem PO atau Pre Order. Sehingga ia hanya membeli sesuai yang dipesan oleh pelanggannya saja. Hal ini dilakukan, untuk menghindari kerugian akibat ada daging ayam yang tidak terjual.
“Namanya daging ayam, kalau orang Indonesia itu pasti tetap akan ada yang beli. Soalnya kan bener-bener lauk makan sehari-hari, selain ikan tempe dan tahu. Jadi walaupun harganya naik, tetap ada yang beli tapi tidak sebanyak ketika harganya belum naik,” terang Eman.
Ia kemudian mencontohkan, beberapa pelanggannya yang biasa membeli daging ayam hingga 2 sampai 3 kilogram, saat ini paling-paling hanya membeli setengah sampai 1 kilogram saja.
Padahal biasanya, saat sedang musim Muludan (Maulid Nabi Muhammad SAW) seperti saat ini, ia dan tukang sayur lainnya kerap menangguk untung yang lumayan dari penjualan daging ayam, karena daging ayam menjadi salah satu bahan masakan yang paling dicari untuk sajian Mauludan.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
“Selain harganya yang naik, ayam nggak begitu laku lagi karena muludan jaman sekarang itu sistemnya orang tidak masak masak lagi. Jadi, selain memberikan uang kepada pengurus masjid, isi dari keranjang berkatnya adalah makanan mentah seperti mie instan, sarden, minyak, gula, dan kopi. Jadi penjualan ayam saat muludan jg gak terlalu tinggi kayak dulu,” tukasnya.
Rouf, pedagang ayam di Pasar Maja juga mengatakan hal serupa. Biasanya dalam sehari ia mampu menjual hingga 25 kilogram lebih. Namun saat ini paling hanya setengahnya saja karena masyarakat memilih untuk membeli lauk pauk yang lainnya seperti tahu, tempe, telur, dan juga ikan air tawar yang lebih murah ketimbang daging ayam.
“Paling yang beli ya kebanyakan langganan saja misalnya pedagang ayam geprek, pedagang mie ayam, dan catering. Itupun jumlahnya nggak sebanyak biasanya karena pedagang makanan juga sering kebingungan karena tidak mau menaikkan harga khawatir tidak laku,” terangnya, sambil berharap harga ayam segera turun, agar daya beli masyarakat meningkat lagi seperti semula. (mardiana)
























