SATELITNEWS.COM, SERANG – Saat ini, Provinsi Banten sedang siaga terhadap berbagai potensi terjadinya bencana meteorologi seperti, potensi banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, sampai bencana kegagalan teknologi.
Potensi itu, tersebar merata hampir di seluruh daerah di Provinsi Banten. Berbagai jenis bencana itu, sejatinya kerap terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana itu penting dilakukan, seperti memastikan peralatan evakuasi, jumlah personel tanggap bencana, sampai mitigasi yang harus intens dilakukan.
Gubernur Banten Andra Soni mengungkapkan, seluruh stakeholder dari mulai BNPB, Kejaksaan, PU, Balai, BMKG, Basarnas, Polda, TNI, serta para relawan, harus mulai meningkatkan kembali kolaborasi dan koordinasinya dalam rangka kesiapsiagaan itu.
“Tentu kita berharap, Banten tetap aman dan nyaman. Namun terlepas dari itu, kita juga harus tetap waspada dan siaga, apalagi kondisi cuaca belakangan sudah mulai turun hujan angin dengan intensitas yang cukup besar,” ujarnya, seusai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Bencana di Lingkungan Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Kota Serang, Selasa (23/9/3025).
Diakui Andra, saat ini berbagai langkah pencegahan sudah mulai dilakukan, salah satunya melalui tim pengendalian banjir yang sudah dibentuk beberapa waktu lalu. Beberapa titik penyebab banjir, sudah dilakukan penanganan oleh tim teknis di lapangan.
“Selain itu, tim ini juga kan mempunyai tugas melakukan koordinasi. Dimana selama ini, kadang kita tidak sampai menyentuh secara menyeluruh dengan alasan kewenangan. Oleh karena itu, melalui tim ini semua bekerja tidak memandang kewenangan,” jelasnya.
Baca Juga: Gubernur Andra Doakan Lima Jurnalis dan Kru Kapal yang Hilang di Perairan Selat Sunda
Apalagi persoalan banjir, yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyaarakat. Sehingga, aksi tim ini harus dipercepat dan tepat sasaran.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Nana Suryana menambahkan, apel ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah serta seluruh stackholder bagaimana pentingnya kita melaksanakan siaga bencana.
“Ini merupakan salah satu langkah awal sebelum terjadi bencana, untuk mengukur kekuatan personel, kekuatan peralatan, dan kekuatan logistik. Apakah masih berfungsi dengan baik atau rusak. Sehingga ketika terjadi bencana semua yang sudah dipersiapkan bisa dikerahkan,” pungkasnya.
Dalam kesiapsiagaan itu, kata Nana, BPBD menyiagakan sebanyak 150 personel yang akan dibagi menjadi beberapa group untuk stanby 24 jam ketika ada laporan bencana alam. Apalagi seluruh daerah mempunyai potensi bencana terutama memang yang kondisi topografinya lebih landai atau dataran rendah.
“Misalnya di Tangerang, itu lebih banyak banjir genangan atau banjir kiriman. Sehingga kalau ada hujan dengan intensitas lebat dan frekuensi lama, ini bisa menyebabkan hal serupa,” tuturnya.
Selain itu, Nana memprediksi kedepan potensi bencana bbanjir itu akan lebih banyak terjadi. Oleh karena itu, peran dari tim pengendalian banjir yang dibentuk itu sangat penting bagaimana kita semua bisa memitigasi terjadinya banjir salah satunya dengan melakukan normalisasi sejumlah aliran sungai.
Baca Juga: Kasus ISPA Capai 4.500, Pemprov Banten Perpanjang PJJ
Banjir-banjir itu, kata Nana, disebabkan oleh alih fungsi lahan yang tidak bisa dihindari. Pertumbuhan manusia yang cukup tinggi membuat perkembangan industry property terus melakukan perluasan lahan untuk perumahan. Hal itu memang berdampak positif bagi perekonomian masyarakat, namun itu harus juga diimbangi dengan kesadaran lingkungan.
“Seharusnya pada saat pemberian izin, pengembang wajib membuat komitmen untuk membuat kolam retensi, embung atau tandon air, sebagai salah satu pengendalian banjir selain Fasos Fasum,” pungkasnya. (luthfi)
























