SATELITNEWS.COM, SERANG – Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Banten, mencatatt jumlah kecelakaan yang melibatkan wisatawan selama 2025 ini sudah delapan kasus.
Angka itu, menjadi warning atau peringatan bagi stakeholder terkait, agar bisa melengkapi sarana dan prasarana (Sarpras) penunjang keselamatan wisatawan, yaitu Pusat Krisis Pariwisata.
Ketua Balawista Nasional Ade Ervin mengatakan, selama ini sarpras penunjang keselamatan di wisata pantai di Banten masih kurang. Terlebih, setiap tahun selalu terjadi peristiwa kecelakaan laut yang melibatkan para wisatawan yang datang ke wilayah Provinsi Banten.
Kasus itu, seharusnya bisa diijadikan acuan sebagai salau satu upaya untuk melengkapi sarpras penunjang penyelamatan para wisatawan. Oleh karena, selama ini pembangunan yang dilakukan baru sekedar penataan tempat pariwisata tidak dibarengi dengan Sarpras penunjang keselamatan.
“Kita butuh membangun line (garis-red) keselamatan wisatawan, karena selama ini pembangunan fisik lebih kepada tata kelola destinasi yang sifatnya lebih privat atau penyelenggara. Tapi kalau kebutuhan pablik itu untuk semua, dan itu belum terlaksana,” katanya, Senin (6/10/2025).
Ade mengaku, selama ini pihaknya sering menyampaikan kepada Pemprov Banten terkait usulan pembangunan sarpras penunjang keselamatan wisatawan. Akan tetapi, setiap usulan yang disampaikan itu tidak pernah mendapatkan respons serius dari Pemprov Banten.
Baca Juga: DPRD Banten Dukung Kebijakan PJJ, Yeremia: Pelajaran Harus Tetap Berbobot
“Balawista sudah lama mendorong agar Pemprov Banten segera membentuk Pusat Krisis Kepariwisataan, nanti layanan keselamatan dan informasi ada disitu semua, dan itu juga bisa menjadi jaminan keselamatan para wisatawan,” ujarnya.
Ade menyampaikan, usulan yang dilakukan pihaknya bukan tanpa alasan, melainkan sesuai dengaan regulasi diatasnya, yaitu Kementerian Pariwisata. Oleh karena itu, dia berharap agar usulan yang selama ini disampaikan bisa segera direspons oleh Pemprov Banten.
“Usulan itu sudah diamantkan oleh Menteri Pariwisata, harusnya pembangunan itu lebih kepada manfaatnya yang besar. Selama ini pembangunan lebih kepada penataan yang dikelola kelompok tertentu saja,” tambahnya.
Ketua Balawista Pandeglang, Agus Taufik mengatakan hal senada. Padahal, kata dia, tugas balawista bukan hanya menyelamatkan korban di laut, melainkan memberikan pemahaman kepada para wisatawan sebelum terjun ke air.
“Jadi sarpras penunjang keselamatan ini memang sangat dibutuhkan, karena pada momen-momen tertu, jumlah wisatawan yang datang sangat banyak. Inilah kenapa sarana penunjang itu sangat penting,” tukasnya.
Agus mengatakan, jumlah anggota yang harus mengamankan semua wilayah pantai di Pandeglang sebanyak 40 anggota. Jumlah itu tidak sebanding dengan banyaknya tempat wisata pantai yang ada di Kabupaten Pandeglang.
Baca Juga: Pemprov Banten Siagakan Layanan Faskes Di Seluruh Tingkatan
“Selain kekurangan personel, kami juga kekurangan peralatan penyelamatan seperti perahu karet, pelampung, dan alat komunikasi darurat. Mudah-mudahan, kekurangan itu bisa segera ditanggulangi,” imbuhnya. (adib)
























