SATELITNEWS.COM, LEBAK—Beras yang masuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digulirkan Perum Bulog Sub Divre Lebak-Pandeglang minim peminat meski dijual dengan harga lebih murah. Diduga hal itu akibat kualitas yang tidak sesuai selera masyarakat.
Beras SPHP dijual dengan harga Rp 62.500 per karung berisi 5 kilogram dan tersedia di supermarket, koperasi, serta kios pangan yang bekerja sama dengan Bulog. Namun, rendahnya minat masyarakat diduga dipicu oleh faktor kualitas beras yang dinilai kurang sesuai dengan selera sebagian konsumen.
Reni Hafilah, salah satu warga Rangkasbitung, yang juga pemilik warteg di sekitar Alun-Alun Rangkasbitung, mengaku pernah menggunakan beras SPHP untuk kebutuhan usahanya. Namun menurutnya, beras tersebut belum memenuhi selera pelanggan.
“Kalau buat makan di warteg, orang biasanya suka nasi yang lembut dan pulen. Beras SPHP ini kering, lebih cocok untuk usaha nasi goreng,” kata Reni, Senin (13/10/2025). Reni berharap Bulog dapat meningkatkan kualitas beras SPHP agar lebih diminati oleh masyarakat kecil, terutama pelaku usaha kuliner. “Kalau kualitasnya bagus, pasti banyak yang beli. Tapi kalau masih seperti sekarang, orang lebih memilih beras biasa,”katanya.
Menanggapi hal itu, Kepala Bulog Cabang Lebak Agung Trisakti, menjelaskan bahwa rendahnya permintaan beras SPHP saat ini juga dipengaruhi oleh musim panen raya di beberapa wilayah sekitar. “Sekarang ini masyarakat Lebak dan Pandeglang masih banyak yang panen, jadi mereka punya stok beras sendiri di rumah. Otomatis permintaan beras SPHP menurun,” kata Agung.
Agung menambahkan, sebagian beras SPHP yang beredar di pasaran saat ini masih menggunakan stok beras impor hasil pengadaan tahun sebelumnya. Hal itu turut memengaruhi karakteristik beras yang dinilai lebih kering dibanding beras lokal.
Baca Juga: 3 Ton Beras SPHP Diserbu Warga Sukamulya, GPM Disperindag Meriahkan Harhubnas
“Memang secara visual beras impor lebih putih dan tingkat pecahnya lebih rendah, tapi setelah dimasak hasilnya cenderung kurang pulen. Ke depan, kami akan beralih menggunakan beras lokal agar lebih sesuai dengan selera masyarakat,” jelasnya.
Menurut Agung, saat ini Bulog Lebak memiliki stok beras lokal lebih dari 20 ribu ton, dan proses peralihan dari beras impor ke lokal sudah mulai dilakukan. “Stok kita sangat cukup. Tidak ada masalah dengan ketersediaan. Impor juga sudah dihentikan sejak awal tahun ini,” tegasnya.(mulyana)
