SATELITNEWS.COM, SERANG – Sektor pariwisata di Provinsi Banten, saat ini masih didominasi oleh wisatawan lokal yang hanya melakukan perjalanan one day trip. Sementara, wisatawan yang menginap masih terhitung minim, kecuali dalam berbagai agenda resmi saja.
Oleh karena itu, pembangunan sektor pariwisata di Banten perlu mendapat perhatian serius, terutama dalam hal konektivitas dan ketersediaan amenitas. Kendatipun saat ini, sebagian besar kondisi jalan sudah cukup baik, namun ketersediaan amenitas dan aksesibilitas itu masih menjadi PR yang belum terselesaikan.
“Hal itulah yang kemudian menyebabkan wisatawan yang menginap di Kawasan Anyer dan Carita masih minim,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Linda Rohyati Fatimah, saat kegiatan Gerakan Sapta Pesona di Marbella Place Anyer, Kabupaten Serang, Sabtu (18/10/2025).
Kegiatan Sapta Pesona ini, kata Linda, menjadi bagian dari Upaya Pemprov mendorong sinergi lintas sektor guna menciptakan destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Banten pada Agustus 2025 mencapai 52,75 persen, atau turun 3,34 poin persen dibandingkan bulan Agustus 2024 (y-on-y).
Kemudian, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) hotel bintang (Asing dan Indonesia) di Banten pada Agustus 2025 mencapai 1,30 malam, atau turun 0,03 malam dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya (y-on-y). kendatipun jumlah kunjungan wisatawan pada periode tersebut mengalami peningkatan sebesar 26,88 persen atau mencapai 4,92 juta.
Linda melanjutkan, setiap destinasi perlu memiliki daya tarik khas agar wisatawan terdorong untuk kembali berkunjung. Jangan sampai wisatawan merasa mereka tidak terhibur sehingga kapok untuk kembali datang.
Baca Juga: Tangerang 10K Berkontribusi Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Kota Tangerang
“Kami rasa perlu adanya atraksi dan daya tarik yang melibatkan wisatawan secara langsung, sehingga pariwisata harus dimaknai sebagai something to see, something to do, dan something to buy,” ujarnya.
Atraksi wisata yang memberi ruang bagi wisatawan untuk berinteraksi, lanjutnya, akan menghadirkan pengalaman berkesan sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Linda menekankan pentingnya pelayanan, keramahan, dan kebersihan di setiap objek wisata.
“Pada hari ini kita mewujudkan hal tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan bagaimana menyambut wisatawan,” imbuhnya.
Ia berharap, Gerakan Sapta Pesona yang mengedepankan nilai aman, tertib, bersih, sejuk, indah, dan ramah dapat mengingatkan semua pihak tentang pentingnya kolaborasi menciptakan suasana wisata yang menyenangkan. Linda menegaskan, menjaga kebersihan kawasan wisata bukan hanya tanggung jawab petugas, melainkan juga wisatawan, pelaku usaha, warga lokal, dan pemerintah.
“Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan kepariwisataan. Saya mengajak seluruh pihak bersama-sama menjaga kebersihan pantai, laut, dan seluruh kawasan publik,” ujarnya.
Sementara, Ketua Pelaksana Gerakan Sapta Pesona Sunandar, menyampaikan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi untuk mengembangkan pariwisata daerah yang berkelanjutan.
Baca Juga: Pengelola Wisata Dilarang Naikan Harga Sepihak, Pemprov Banten Turunkan Tim Pengawas
Kegiatan ini, melibatkan mahasiswa, pelajar, akademisi, pemerintah daerah, perangkat kecamatan dan desa, masyarakat, serta sejumlah komunitas.
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan suasana wisata yang aman, nyaman, dan bersih,” tukasnya.
Rangkaian kegiatan Gerakan Sapta Pesona meliputi edukasi penyuluhan nilai Sapta Pesona, aksi bersih pantai, pemeriksaan kesehatan gratis, festival kuliner, lomba mini vlog, dan talk show serta berbagai aktivitas kolaboratif lainnya bersama masyarakat.
“Diharapkan kegiatan ini menjadi kegiatan kolektif dan berkelanjutan, serta menjadi bagian dari sistem pengelolaan pariwisata di Provinsi Banten. Dengan demikian, dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (luthfi)
























