SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Memperingati World Stroke Day, Siloam Hospitals Lippo Village mengingatkan pentingnya penanganan cepat bagi penderita stroke lewat kampanye “Every Minute Counts, Every Life Matters.”
Stroke masih menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Penanganan cepat menjadi kunci pemulihan pasien. Setiap menit sangat berarti, karena keterlambatan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak.
Sebagai Stroke Ready Hospital, Siloam Hospitals Lippo Village menawarkan layanan terpadu berbasis teknologi. Proses diagnosis hingga tindakan medis dilakukan dalam waktu kurang dari 45 menit sejak pasien tiba di IGD — mulai dari CT Scan otak, pemberian obat trombolitik, hingga koordinasi tim multidisiplin.
Atas layanan itu, rumah sakit ini meraih Diamond Award dari ANGELS Initiative, penghargaan internasional bagi rumah sakit dengan standar penanganan stroke terbaik. “Edukasi, deteksi dini, dan respon cepat adalah kunci menekan angka kematian akibat stroke. Kami tidak hanya fokus pada penyembuhan, tetapi juga pencegahan dan pemulihan kualitas hidup pasien,” ujar dr. Erick Prawira Suhardhi, MARS, Hospital Director Siloam Hospitals Lippo Village.
Selain layanan darurat, rumah sakit juga rutin menggelar edukasi publik dan skrining stroke untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, serta gaya hidup tidak sehat.
Dokter spesialis saraf Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Pricilla Yani Gunawan, Sp.S menegaskan pentingnya segera membawa pasien ke rumah sakit yang siap menangani stroke. “Kita punya waktu emas sekitar empat setengah jam sejak gejala muncul. Jika pasien datang dalam waktu itu, dokter masih bisa memberikan terapi pembuka sumbatan pembuluh darah otak,” katanya.
Baca Juga: Kecepatan Penanganan Jadi Penentu Keselamatan Pasien Aorta Kompleks
Di IGD, dokter akan memastikan kapan pasien terakhir terlihat dalam kondisi normal. Informasi waktu itu menentukan apakah terapi dapat dilakukan. “Keluarga sering panik dan sulit mengingat, padahal ini penting agar obat pelarut sumbatan bisa diberikan,” ujarnya.
Namun, dalam kasus tertentu—seperti pasien yang terbangun dengan wajah mencong atau tubuh lemah—waktu pasti sering tak diketahui. “Dalam kondisi begitu, kami perlu pemeriksaan lanjutan seperti CT Scan atau MRI untuk memastikan area dan jenis sumbatan,” jelasnya.
Menurut dr. Pricilla, peluang sembuh bergantung pada lokasi dan luasnya pembuluh darah yang tersumbat. “Kalau pembuluh besar yang tersumbat, ibarat jalan tol macet total. Lalu lintas di jalan kecil ikut terhenti. Tapi kalau pembuluh kecil, kerusakannya lebih ringan,” katanya.
Waktu tetap menjadi faktor paling krusial. “Begitu sumbatan terjadi, setiap jam ribuan sel otak mati. Karena itu, baik sumbatan besar maupun kecil, penanganan harus secepat mungkin,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, cara-cara tradisional seperti menusuk ujung jari, memijat, atau mengoleskan bahan alami tak memiliki dasar ilmiah. “Sementara kita sibuk mencoba hal itu, waktu emas justru terbuang,” tegasnya. Pricilla mengimbau masyarakat mengenali gejala stroke sejak dini — wajah mencong, tangan atau kaki mendadak lemah, dan bicara pelo atau tak jelas. “Setiap menit berarti bagi sel otak. Jangan panik, segera ke rumah sakit,” pesannya. (made)
