SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Di tengah arus digital dan gempuran budaya populer, seorang bocah di pesisir Dadap, Teluknaga, memilih jalan berbeda. Bagus Putra, delapan tahun, siswa kelas dua SD, lebih suka menabuh gambang kromong ketimbang bermain gawai.
Bagus bukan dari keluarga seniman besar. Ia mengenal musik tradisi Betawi itu dari kakaknya, Rendi, pelatih di Sanggar Beksi Kembang Dadap. Tanpa paksaan, ia belajar dengan cara sederhana—menonton, menirukan, lalu memainkan sendiri. “Cuma mainin, diajarin sama abang,” ujarnya malu-malu usai tampil di Tangerang Multi Fest 2025 di Stadion Benteng Reborn.
Selama setahun terakhir, Bagus rajin datang ke sanggar. Saat pemain lain beristirahat, ia justru terus menabuh. “Awalnya autodidak aja. Lama-lama bisa sendiri,” kata Rendi.
Sanggar Beksi Kembang Dadap berdiri sejak 2020, menaungi kesenian Betawi seperti beksi, lenong, ondel-ondel, dan gambang kromong. Menurut Rendi, banyak anak di kampungnya ikut berlatih. “Yang penting mau belajar,” ujarnya.
Pendiri sanggar, Sandi Ucok, memang ingin melestarikan tradisi lewat generasi muda. Dan Bagus adalah buktinya—bocah kecil yang menjaga irama warisan leluhur dengan polos dan tekun. “Anak sekarang kebanyakan main HP. Tapi kalau ada yang kayak Bagus, mau belajar tradisi, itu luar biasa,” kata Rendi.
Bagus sendiri tak memikirkan istilah “pelestarian budaya”. Ia hanya ingin terus memainkan alat musik kayu itu. “Mau main yang ini aja,” ucapnya sambil menepuk bilah gambang. Di tengah dunia yang sibuk menatap layar, Bagus memilih mendengarkan suara kayu. Pilihan sederhana yang mengingatkan: tak semua masa depan harus digital — sebagian bisa tetap berpijak pada irama tradisi. (mg01)
Baca Juga: Konser Echos of Home, Cara Komunitas Biola Tangerang Ajak Temukan Diri Lewat Kesenian
