SATELITNEWS.COM, LEBAK — Di usia 55 tahun, Cacang Hidayat masih menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan yang nyaris tak berubah sejak dua dekade lalu. Hampir seperempat abad ia mengabdikan diri sebagai pegawai honorer penjaga sekolah dan perpustakaan di SMP Negeri 2 Cibadak. Namun, pengabdian panjang itu tak pernah benar-benar berbuah kesejahteraan.
Rumah yang ia tempati bersama istri dan enam anaknya di Kampung Sanding, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, berdiri rapuh, miring, dan nyaris ambruk. Bangunan tua dari kayu dan anyaman bambu itu menjadi saksi bisu perjuangan hidup keluarga kecil Cacang—bertahan di tengah keterbatasan, dengan upah honorer yang hanya cukup untuk sekadar menyambung hidup.
Kabar pilu tersebut akhirnya sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak. Pemerintah daerah pun merespons cepat dengan menyiapkan bantuan material dan tenaga untuk memperbaiki rumah tak layak huni yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarga Cacang.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Lebak, Iyan Fitriyana, menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan perhatian pemerintah terhadap kondisi Cacang.
“Kami mohon maaf atas kelalaian kami. Ada saudara kami, seorang honorer di lingkungan pendidikan, yang rumahnya belum layak huni,” ujar Iyan kepada Satelitnews.com melalui sambungan telepon, Senin (15/12/2025).
Atas arahan langsung Bupati Lebak, Dinas Pendidikan bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan keluarga besar pendidikan mengambil langkah di luar skema formal. Bantuan material bangunan mulai didatangkan, tenaga tukang disiapkan, dan pembangunan dijadwalkan dimulai pada Rabu mendatang, menyesuaikan kepercayaan masyarakat setempat.
Baca Juga: Tahun 2026, Pemkab Lebak Bakal Perbaiki 267 RTLH
“Hari ini material sudah mulai didatangkan. Pengerjaan akan segera dimulai. Kami mohon doa, insyaallah akhir bulan ini rumah Pak Cacang sudah bisa ditempati dengan lebih layak,” jelas Iyan.
Iyan mengungkapkan, rumah Cacang sebenarnya telah masuk dalam data penerima bantuan pemerintah. Namun, prosesnya tersendat akibat mekanisme dan antrean program di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), sehingga belum bisa direalisasikan melalui anggaran resmi tahun 2025.
“Sudah terdata, tetapi karena antrean dan persyaratan di Dinas Perkim, belum memungkinkan dibangun pada tahun anggaran 2025. Insyaallah di tahun 2026 masuk,” tuturnya.
Lebih jauh, Iyan mengakui bahwa kisah Cacang bukanlah satu-satunya. Masih banyak tenaga honorer di sektor pendidikan yang menghadapi persoalan serupa, namun belum tersorot perhatian.
“Kita akui masih banyak ‘Pak Cacang’ lainnya. Ini menjadi bahan evaluasi kami. Kepala Dinas Pendidikan akan merumuskan langkah strategis untuk memetakan dan menangani persoalan honorer di lingkup pendidikan,” ujarnya.
Langkah penanganan ke depan, kata Iyan, akan melibatkan lintas sektor, mulai dari Dinas Perkim, Baznas Kabupaten dan Provinsi, hingga pemerintah desa.
Baca Juga: Dua Dekade Mengabdi, Cacang Hidayat Masih Tinggal di Rumah Reyot
Meski kabar perbaikan rumah ini membawa harapan baru bagi keluarga Cacang, peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perhatian negara terhadap para honorer kerap datang setelah jeritan mereka terdengar luas.
Sebelumnya diberitakan, selama lebih dari 20 tahun Cacang hidup bersama istrinya, Enok Sutirah (43), dan enam anak mereka di sebuah bangunan tua yang lebih menyerupai gubuk rapuh. Tidak ada lantai ubin, hanya tanah mengeras yang menjadi alas tidur dan beraktivitas. Sebuah amben bambu di sudut rumah tampak nyaris roboh, penyangganya keropos dimakan rayap, sementara permukaannya hanya tertutup terpal lusuh yang robek di sana-sini.
Tiang-tiang rumah telah lapuk, atap bocor hampir di seluruh bagian. Potongan kayu dan bambu dipasang seadanya sebagai penopang darurat agar rumah itu tetap berdiri. Setiap hujan deras turun atau angin kencang bertiup, dinding rumah berderit keras—seolah mengingatkan betapa rapuhnya tempat yang selama ini disebut rumah oleh keluarga Cacang.
(mulyana)
























