SATELITNEWS.COM, LEBAK – Di balik wajah ramah dan langkah pelan Cacang Hidayat (55), tersimpan kisah hidup yang menguras perasaan. Warga Kampung Sanding, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten, ini telah mengabdikan hampir seperempat abad hidupnya sebagai pegawai honorer penjaga sekolah dan perpustakaan di SMP Negeri 2 Cibadak. Namun, panjangnya masa pengabdian itu tak pernah berbanding lurus dengan kenyamanan hidup yang ia harapkan untuk keluarganya.
Selama lebih dari 20 tahun, Cacang, istrinya Enok Sutirah (43), dan enam anak mereka bertahan di sebuah rumah tua yang lebih menyerupai gubuk renta. Alih-alih menjadi tempat pulang yang aman, rumah itu seakan berdiri hanya karena kebiasaan bukan karena kekuatan.
Tiang-tiang penyangga rumah tampak lapuk dan keropos. Atap bocor di hampir semua sisi, hingga setiap kali hujan deras turun, keluarga itu harus mengungsi ke satu-satunya kamar yang masih bertahan. “Anak-anak tidur berhimpitan. Yang penting tidak kehujanan,” ujar Cacang, lirih, matanya menunduk menahan getir, Jumat (12/12/2025).
Cacang mulai bekerja pada Juni 2001. Gajinya sebagai honorer berkisar Rp556.000 hingga Rp800.000 per bulan—jumlah yang jauh dari cukup untuk menghidupi delapan anggota keluarga. Namun ia tetap bekerja, tetap datang paling pagi, tetap menjaga sekolah yang ia cintai. “Cukup tidak cukup, ya itu yang ada. Kami atur seadanya. Kadang ada tambahan dari kebun, atau istri bantu kerja. Alhamdulillah masih bisa bertahan,” ucapnya.
Rutinitasnya pun bukan hal mudah. Setiap hari ia berjalan kaki 8–9 kilometer menuju sekolah. Berangkat pukul 05.00 WIB, menembus gelap dan dingin pagi. “Kadang ada yang kasih tumpangan. Kalau tidak, jalan kaki saja,” katanya sambil tersenyum tipis.
Baca Juga: Pemkab Lebak Segera Perbaiki Rumah Cacang yang Nyaris Roboh
Penghasilan keluarga bertumpu pada hasil kebun seadanya dan upah Enok yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, sesekali membantu pembibitan jamur. Pendapatannya tak menentu, kadang hanya Rp200.000 hingga Rp300.000 per minggu. “Kalau ada panggilan kerja, ya ada. Kalau tidak, ya tidak,” ujar Enok.
Rumah yang mereka tempati dibangun tahun 2000 dan tak pernah tersentuh perbaikan. Kondisinya memburuk setelah sebuah pohon tumbang menimpa bagian atap. “Saya tidak mampu memperbaiki. Jadi dibiarkan saja. Sampai sekarang masih berantakan,” kata Cacang pasrah.
Namun bukan hanya kondisi rumah yang membuat hatinya perih—melainkan komentar lugu anak-anaknya. “Kadang mereka bilang, ‘Pak, rumah orang bagus-bagus.’ Saya cuma jawab, jangan lihat ke atas dulu. Sabar ya, insya Allah nanti ada rezekinya,” ungkapnya, kali ini dengan suara hampir pecah.
Meski hidup serba terbatas, Cacang tak pernah sekalipun meninggalkan tanggung jawabnya sebagai penjaga sekolah dan perpustakaan. Baginya, sekolah itu sudah seperti rumah kedua. “Saya tidak punya keahlian lain. Yang penting anak-anak tetap bisa sekolah,” katanya.
Setelah bertahun-tahun mencoba berbagai tes, tahun ini Cacang akhirnya dinyatakan lolos sebagai PPPK Paruh Waktu. “Nomor NIP sudah keluar. Tinggal menunggu pelantikan Desember ini. Alhamdulillah,” ucapnya, senyum kecil akhirnya muncul di wajahnya.
Namun di balik kabar baik itu, ada satu harapan sederhana yang ia simpan hingga kini: punya rumah layak untuk keluarganya. “Tidak harus bagus. Yang penting tidak bocor, tidak takut roboh,” bisiknya, seakan takut berharap terlalu tinggi.
Baca Juga: Sudah 7.481 Rumah Tidak Layak Huni Dibedah Pemkot Tangerang
Kisah Cacang Hidayat menjadi potret getir perjuangan tenaga honorer di pelosok negeri—mereka yang setiap hari menjaga sekolah, merawat buku dan fasilitas pendidikan, namun tetap hidup dalam kesederhanaan yang kerap tak terlihat oleh banyak mata. (mulyana)
