SATELITNEWS.COM, LEBAK—Putus asa menunggu kepastian pemerintah, warga hunian sementara (huntara) Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak mendirikan tenda aksi sekaligus membuka donasi untuk pembangunan huntap bagi korban bencana banjir bandang dan longsor 2020 silam, di depan kantor Bupati Lebak, Rabu (14/1/2026).
Aksi ini menjadi sindiran telak terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak Provinsi dan Pusat yang dinilai gagal menuntaskan persoalan mendasar warganya selama enam tahun terakhir.
Jaenudin, peserta aksi sekaligus warga Lebakgedong, mengatakan pendirian tenda dengan alas samak dan terpal sengaja dilakukan untuk menggambarkan kondisi nyata yang masih mereka rasakan hingga kini. Menurutnya, kehidupan di bawah terpal telah menjadi keseharian korban bencana sejak enam tahun lalu tanpa kejelasan solusi.
“Aksi ini untuk mengilustrasikan kondisi kami di sana. Enam tahun kami hidup dengan alas samak dan terpal. Kami juga membuka donasi untuk meringankan beban pemerintah kabupaten dan provinsi Banten yang kami anggap tidak mampu mengalokasikan anggaran dari APBD,” kata Jaenudin. Ia menegaskan, penggalangan donasi dilakukan bukan tanpa alasan. Warga menilai Pemkab Lebak lebih mengutamakan pembangunan “mercusuar” yang tidak masuk skala prioritas, sementara kebutuhan mendesak korban bencana justru terabaikan.
“Kami kecewa. Masih banyak pelosok desa yang belum tersentuh pembangunan, tapi pemerintah malah mempertontonkan proyek yang menurut kami bukan prioritas, seperti revitalisasi Alun-alun Rangkasbitung,” ujarnya.
Jaenudin menyebutkan, donasi dibuka sebagai bentuk perlawanan simbolik sekaligus tekanan moral agar pemerintah segera bertindak. Target utama warga adalah adanya kepastian pembangunan huntap, minimal pematangan lahan seluas 5,4 hektare yang diperuntukkan bagi 221 kepala keluarga korban bencana. “Kalau lahannya matang, pusat tidak punya alasan lagi untuk menunda pembangunan. Faktanya, progres keliling lahan baru dilakukan setelah kami turun demonstrasi,” tegasnya.
Baca Juga: Warga Terdampak Banjir di Cipondoh Diberi Bantuan Logistik
Ia juga mengakui, bantuan dari Dinas Sosial maupun para dermawan memang ada, namun sifatnya tidak berkelanjutan. Dalam praktiknya, banyak warga terpaksa membeli kebutuhan hidup sendiri karena bantuan kerap tidak datang dalam kurun waktu sebulan. “Kami tidak munafik, bantuan memang ada. Tapi sering kali kami tetap harus beli sendiri karena bantuan tidak rutin,” ucapnya.
Menanggapi hal itu, Asisten Daerah (Asda) III Setda Lebak, Rahmat, menyatakan tidak mempermasalahkan langkah warga membuka donasi. Menurutnya, selama dilakukan sesuai aturan dan peruntukannya jelas, aksi tersebut sah-sah saja. “Secara aturan tidak ada masalah, sepanjang penggunaannya tepat. Soal malu atau tidak, kami dalam kapasitas tidak menilai itu. Semua pihak pada prinsipnya boleh membantu,” singkat Rahmat.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum menjawab tuntutan utama warga Lebakgedong. Hingga kini, korban bencana masih bertahan di bawah tenda darurat, sementara janji hunian tetap terus menggantung tanpa kepastian. Warga menegaskan akan tetap bertahan dan melanjutkan aksi hingga pemerintah benar-benar merealisasikan pembangunan huntap yang telah lama mereka tunggu. (mulyana)

















