SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Ulah guru SD Negeri Rawa Buntu 01 Kecamatan Serpong berinisial Y membuat geger dunia pendidikan Kota Tangerang Selatan. Dia diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 17 murid laki-laki.
Kasus ini diketahui setelah adanya laporan dari salah satu orang tua korban ke pihak sekolah pada Kamis (15/1) lalu. Hal itu diungkapkan Kepala SDN Rawa Buntu 1, Tarmiati.
Tak menunggu waktu lama, Tarmiati sebagai pimpinan di sekolah tersebut langsung mengambil tindakan. Langkah pertama adalah menginterogasi oknum guru yang diduga kuat menjadi pelaku dalam kasus ini hingga tak bisa berkilah satu kata pun.
“Saya panggil guru itu, kata guru itu, ‘Mohon maaf guru saya khilaf’,” ucap Tarmiati meniru jawaban pelaku.
Pengakuan anak buahnya itu pun membuat dirinya terkejut. Sontak, ia langsung mengambil langkah tegas dengan merumahkan pelaku.
“Sudah, ibu gak mau tau saat ini sampai nanti waktu yang tidak ditentukan dia harus di rumah dulu, bahkan ibu menulis surat untuk melaporkan ke dinas itu kan pake surat resmi pas hari Kamis itu juga. Karena kan kalau kayak gini ngga bisa di toleransi, apalagi itu bener orang tua yang datang ke saya,” tegasnya.
Baca Juga: Wali Kota Tangsel Evaluasi PJJ Satu Hari, Abu Vulkanik Masih Terdeteksi
Ia mengungkapkan, aksi tak bermoral oknum guru tersebut telah membuatnya tak habis pikir. Bukannya menjadi sosok yang memberikan contoh terhadap muridnya, dia justru melakukan perbuatan yang sangat bejat.
Parahnya lagi, ternyata korban tak hanya satu. Dengan iming-iming memberi uang dan makanan, sudah lebih dari 10 siswa menjadi korban oknum guru bejat tersebut. Korban dipangku, dipeluk, sampai dicium. Bahkan hingga memegang alat vital korban.
“Kalau sampai saat ini yang sudah melapor (korban) ada 17. Korbannya cowo semua, gurunya juga cowo. Duda. Kalau menurut orang tua, saya ngga tau yah katanya diiminginya dikasih uang,” paparnya.
Saat ini kasus tersebut sudah dalam penanganan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tangsel. Berdasarkan informasi, para korban pun ingin membawa kasus ini ke ranah hukum.
Kepala UPTD PPA Kota Tangsel, Tri Purwanto menegaskan, saat ini kasus tersebut tengah ditangani. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaga psikologis anak yang menjadi korban aksi bejat oknum guru tersebut.
“Kita akan dampingi dalam proses pelaporannya, baik proses hukumnya, di Kepolisian maupun di kita (UPTD PPA) untuk mengedukasi orangtua bagaimana seharusnya. Jadi menyikapi kejadian ini, jangan sampai anak-anak akhirnya terima dampaknya ini dengan kejadian ini, itu hal pertama,” ungkap Tri.
Baca Juga: SIM Keliling Tangerang Selatan Senin 7 September 2026, Lokasi dan Jadwalnya
Lalu langkah kedua, kata Tri, UPTD PPA Kota Tangsel juga akan menerjunkan psikolog kepada seluruh korban.
“Nah ini yang memang kita titik beratkan, layanan psikolog ini sebetulnya buat psikologi mereka. Apa yang mereka sekarang alami, ini bisa jadi trauma kan nantinya, itu yang akan panjang. Ini harus kita perbaiki psikisnya, jangan sampai kan saya pernah ngomong, korban kalau tidak ditangani dengan benar secara psikologinya, itu bisa jadi dua kemungkinan di kemudian hari. Dia bisa menjadi pelaku atau dia menjadi korban seumur hidup,” jelasnya.
Oleh karena itu, layanan konseling menjadi langkah utama dalam penanganan ini. Kemudian di sisi lain, UPTD PPA Kota Tangsel terus akan menggali kebenaran kasus tersebut.
“Karena sementara ini, korban berjumlah 17 orang. Tapi itu kan 17 belum kita klasifikasikan yang kasus berat, sedang, ringan. Karena itu yang akan kita perdalam ini dulu. Lalu kita akan dampingin laporannya,” pungkasnya. (eko/rmg)
























