SATELITNEWS.COM, SERANG – Bencana banjir yang melanda semua wilayah di Banten, menyisakan pilu bagi para petani. Pasalnya, ada 1.101,5 hektare lahan pertanian terendam banjir dan menyebabkan gagal panen alias puso.
Akibat hal itu, kerugian semua petani di Banten lebih dari Rp11 Miliar, dengan estimasi modal menanam padi sekira Rp10 juta per hektare. Estimasi itu untuk kepentingan membeli benih padi, pupuk, mengolah lahan, dan lainnya.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, total lahan pertanian yang sempat terendam banjir seluas 8.596 hektare. Dari luasan itu, sekira 1.101,5 hektare tanaman padi milik petani mengalami puso alias gagal panen.
Banjir di Kabupaten Pandeglang, merendam sawah seluas 5.034 hektare di 16 kecamatan. Luasan yang sudah surut sekira 215 hektare, sedangkan yang masih terendam seluas 4.819 hektare. Dari luasan itu, tanaman padi yang mengalami pusi dilahan seluas 334 hektare.
Di Kabupaten Lebak, banjir melanda enam kecamatan dan menyebabkan lahan pertanian seluas 489 hektare terendam banjir. Dari luasan itu, banjir yang sudah surut dilahan seluas 126 hektare atau masih ada 363 hektare lahan terendam. Akibat hal itu, sawah seluas 192 hektare mengalami puso.
Kemudian di Kabupaten Tangerang banjir melanda 15 kecamatan dan menyebabkan 814,5 hektare lahan pertanian terendam banjir. Dari luasan itu, sekira 50 hektare sudah mengalami surut, sedangkan 764,5 hektare lahan masih terendam banjir. Akibat hal itu, 29,5 hektare lahan pertanian masih terendam banjir.
Baca Juga: Kasus ISPA Capai 4.500, Pemprov Banten Perpanjang PJJ
Selanjutnya di Kabupaten Serang, banjir melanda 21 kecamatan dan menyebabkan lahan seluas 2.012 hektare masih terendam banjir dan menyebabkan tanaman padi dilahan seluas 535 hektare mengalami puso.
Kemudian di Kota Serang, banjir melanda lima kecamatan dan menyebabkan lahan seluas 236,5 hektare terendam banjir. Dari jumlah itu, sekira 93 hektare sudah surut sedangkan 143,5 masih terendam. Akibat hal itu, tanaman padi dilahan seluas 11 hektare mengalami puso.
Sedangkan di Kota Cilegon, banjir hanya merendam satu kecamatan dan menyebabkan lahan pertanian seluas 10 hektare mengalami puso, dari 10 hektare areal pertanian yang terendam banjir.
Kepala Distan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan ke sejumlah lokasi banjir. Tindakan itu untuk memastikan akurasi data lahan pertanian yang masih tergenang banjir dan berpotensi mengalami puso.
“Data itu masih bisa berubah, kita masih memantau,” katanya, Senin (26/1/2026).
Agus mengatakan, para petani yang mengalami gagal panen atau puso akan mendapatkan bantuan berupa benih padi. Terkait bantuan ganti rugi dan lainnya, pihaknya belum bisa berbicara banyak.
Baca Juga: Pengadaan 500 Ribu Perumahan Di Banten Terkendala Lahan
“Kita ganti benih padi para petani, untuk yang puso,” ujarnya.
Agus belum bisa memastikan, kerugian materil secara pasti akibat gagal panen yang dialami para petani. Akan tetapi, dampak dari puso tersebut sangat besar bagi masyarakat yang memiliki lahan pertanian.
“Kerugiannya besar,” tandasnya.
Fahrurozi anggota Kelompok Tani (Poktan) Desa Sangiang, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang mengatakan, areal pertanian yang terendam banjir di desanya seluas tujuh hektare. Akibat hal itu, para petani merasa khawatir terjadi gagal panen.
“Luas, hektaran yang kerendam banjir. Ada yang baru menanam, ada yang sudah sebulan, kerendem semua. Kita masih khawatir gagal panen, soalnya tanaman padi kita lama terendam airnya,” tuturnya.
Jaenudin, anggota Poktan Kecamatan Tunjungteja mengatakan hal senada. Di Kecamatan Tunjungteja ada sekira 130 hektare lahan pertanian yang terendam banjir dan berpotensi puso sekira 73 hektare, karena tanaman padi terendam air.
“Luas, hampir sebagian lahan pertanian kerendem air. Drainasenya kurang baik, airnya jadi sulit surut. Setiap hujan lebat pasti sawah selalu tergenang air,” imbuhnya. (adib)
























