SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG — Pascabencana banjir melanda beberapa wilayah di Kabupaten Pandeglang, tercatat 2.165 hektar lahan persawahan terendam tersebar di 13 kecamatan, serta 21 hektar diantaranya gagal panen alias puso.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Uun Junandar mengatakan, pihaknya telah melakukan pendataan terhadap kelompok tani yang terdampak banjir.
Selain itu, pihaknya juga telah mengusulkan bantuan benih ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten agar petani dapat melakukan tanam ulang.
“Kami sudah mengidentifikasi lahan dan petani terdampak, sekaligus mengajukan bantuan benih ke provinsi,” katanya, Senin (26/1/2026).
“Untuk pembagian teknisnya, kita akan bagikan berdasarkan luasan lahan yang terendam banjir. Bantuan benih itu, 25 kg per hektar, khususnya yang mengalami puso,” tandasnya.
Uun menyebut, akibat adanya banjir yang menggenangi lahan persawahan, cadangan gabah di Kabupaten Pandeglang hilang.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
“Kalau dihitung, rata-rata ton per hektare gabah, untuk yang mengalami puso saja, artinya satu hektar 6 ton gabah, 126 ton gabah ini terjadi kegagalan,” tukasnya.
Kerugian yang dialami para petani akibat banjir, diperkirakan mencapai 126 ton gabah. Jika mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, yang saat ini ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram, dan menjadi acuan penerimaan Bulog, maka total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp786 juta.
Kerugian tersebut, dialami petani yang tersebar di 13 kecamatan yang terdampak banjir.
Sementara, seorang petani asal Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Endang mengaku, mengalami kerugian hingga Rp20 juta dari satu hektar sawah miliknya, akibat gagal panen.
Ia menyebut, tanaman padi membusuk dan mati terendam air, sehingga harus menanam ulang dan kembali mengeluarkan biaya produksi.
“Padinya rusak semua, terendam banjir. Mau tidak mau harus tanam ulang, dan butuh biaya lagi,” ujar Endang.
Baca Juga: UPT Puskesmas Bojong Pandeglang Bahas Kesehatan Masyarakat
Ia menambahkan, kerugian yang dialami petani dengan lahan lebih luas, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah, terutama bagi mereka yang memiliki puluhan hektar sawah.
Para petani berharap, pemerintah segera melakukan normalisasi sungai yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, yang dinilai menjadi salah satu penyebab banjir.
Selain itu, mereka juga meminta adanya bantuan dan perhatian serius dari pemerintah daerah, untuk meringankan beban para petani yang terdampak bencana banjir.
Kepala Desa (Kades) Idaman, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Ilman menyatakan, mayoritas warganya berprofesi sebagai petani. Sehingga, kerugian besar bagi warganya ketika banjir melanda seperti pekan lalu.
“Kemarin-kemarin banjir berturut-turut, kerusakan lahan persawahan juga lumayan parah. Kami sudah koordinasikan dengan Pemkab Pandeglang, melalui kecamatan,” pungkasnya.
Ditegaskannya, saat banjir terakhir melanda sepekan lalu, usia padi petani memang hampir panen. Maka demikian, kerugian cukup besar. (mardiana)
























