SATELITNEWS.COM, SERANG – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laju perekonomian selama tahun 2025. Hasilnya, perekonomian di Provinsi Banten mengalami pertumbuhan 5,37 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya sekira 4,79 persen.
Perekonomian Provinsi Banten tahun 2025 yang dihitung berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp936,20 triliun dan PDRB per kapita mencapai Rp74,67 juta atau 4.532,45 US Dollar.
“Ekonomi Provinsi Banten tahun 2025 tumbuh sebesar 5,37 persen, tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun 2024 yang tumbuh 4,79 persen,” kata ujar Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2026).
Dia menerangkan, pertumbuhan perekonomian itu bisa dilihat dari sisi produksi. Dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 9,60 persen.
“Sementara, dari sisi pengeluaran, komponen Total Net Ekspor mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,27 persen,” katanya.
Dia menerangkan, ekonomi Provinsi Banten triwulan IV tahun 2025 terhadap triwulan IV tahun 2024 mengalami pertumbuhan sebesar 5,64 persen years on years. Dari sisi produksi, lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 16,42 persen.
Baca Juga: Tiga Jabatan Eselon II Masih Kosong, Pemprov Lakukan Pemetaan Pegawai
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dimiliki oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 9,09 persen,” ujarnya.
Kemudian untuk warga miskin, pada September 2025 sebesar 5,51 persen, turun 0,12 persen poin terhadap Maret 2025 dan turun 0,19 persen poin terhadap September 2024.
Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 760,85 ribu orang, turun 11,9 ribu orang terhadap Maret 2025 dan turun 16,64 ribu orang terhadap September 2024.
“Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2025 sebesar 5,35 persen, mengalami penurunan dibandingkan Maret 2025 atau 5,58 persen,” tandasnya.
Sementara, persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2025 sebesar 6,27 persen, lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 atau 5,89 persen. Pada September 2025, rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi Banten memiliki 5,17 orang anggota rumah tangga.
“Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp3.698.039 per rumah tangga miskin per bulan,” ucapnya.
Baca Juga: Pemprov Evaluasi Jurusan SMK, Dindikbud Banten Lakukan Optimalisasi Kejurusan
Sedangkan untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), kata dia, pada November 2025 sebesar 6,63 persen, turun 0,05 persen poin dibanding Agustus 2025. Jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada November 2025 sebanyak 6,48 juta orang, naik 314 ribu orang dibanding Agustus 2025.
“Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 67,75 persen, naik sebesar 3,09 persen poin dibanding Agustus 2025,” tukasnya.
Kata dia, penduduk yang bekerja pada November 2025 sebanyak 6,05 juta orang, naik 296,34 ribu orang dari Agustus 2025. Pada November 2025 penduduk bekerja pada kegiatan formal sebanyak 3,19 juta orang atau sekira 52,72 persen, turun 2,16 persen poin dibanding Agustus 2025.
“Tingkat setengah pengangguran sebesar 7,35 persen naik sebesar 0,69 persen poin, sementara tingkat pekerja paruh waktu sebesar 17,55 persen turun 0,04 persen poin dibanding Agustus 2025,” tuturnya.
Sementara, Gubernur Banten Andra Soni beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa Pemprov Banten akan berupaya menekan angka pengangguran dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Salah satu upaya itu yakni melalui intervensi kebijakan seperti Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra). Program itu merupakan salah satu upaya mengatasi disparitas dan memudahkan akses masyarakat. Dengan begitu, perekonomian diwilayah perdesaan bisa tumbuh.
“Salah satunya program Bang Andra, termasuk investasi. Karena bisa menciptakan lapangan kerja baru, kemudian akses semakin mudah. Tentunya harapan kita bisa berdampak terhadap perekonomian,” imbuhnya. (adib)
























