SATELITNEWS.COM, TANGERANG – LPK & SMK Gyokai Indonesia Kompeten menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di halaman kantor Gyokai, Jalan Pesona Wibawa Praja, Desa Jeungjing, Kecamatan Cisoka, Senin (9/2/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dan mendapat perhatian luas dengan kehadiran Bupati Tangerang Maesyal Rasyid serta tokoh nasional Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj.
CEO LPK & SMK Gyokai Indonesia Kompeten, Teguh Imam Pambudi, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas istimewa dengan menghadirkan tokoh nasional. Salah satunya adalah Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, sosok yang ia sebut sebagai guru sekaligus orang tua bagi banyak pihak di lingkungan Gyokai.
“Beliau sebenarnya punya agenda padat. Bahkan sempat harus kembali ke Solo. Tapi Alhamdulillah, beliau menyempatkan hadir sebentar di sini dan dalam keadaan sehat walafiat,” ujar Teguh kepada satelitnews.com.
Menurut Teguh, awalnya acara Isra Mi’raj ini hanya dirancang sebagai kegiatan internal SMK untuk para siswa. Namun, seiring persiapan, panitia memutuskan mengundang tokoh agama dan pimpinan daerah agar kegiatan memiliki nilai lebih luas.
“Awalnya memang untuk anak-anak SMK saja. Tapi kemudian kami undang para kiai, dan Alhamdulillah Bupati Tangerang juga hadir serta memberikan apresiasi,” katanya.
Teguh menjelaskan, kehadiran Bupati Tangerang menjadi momentum penting untuk menunjukkan langsung program Gyokai yang selama ini berjalan. Ia menyebut, Gyokai memiliki satu misi utama, yakni memajukan sumber daya manusia sekaligus menekan angka pengangguran.
“Misinya sama dengan nawacita Pak Bupati, yaitu mengurangi pengangguran. Sekarang pemerintah daerah mulai melihat langsung, bahwa program ini berjalan dan dampaknya bagus untuk masyarakat,” ujarnya.
Sejak mulai berjalan pada 2017, Gyokai Indonesia Kompeten telah melatih lebih dari 20 ribu siswa. Program pelatihan yang dijalankan berbeda dengan pola Balai Latihan Kerja (BLK) pada umumnya.
“Pelatihan kami bukan 30 persen teori dan 70 persen praktik seperti BLK. Di Gyokai, anak-anak langsung praktik di industri melalui program pemagangan. Mereka langsung bekerja di pabrik,” jelas Teguh.
Ia menambahkan, perbedaan paling mendasar terletak pada pembiayaan. Jika pelatihan di BLK dibiayai pemerintah, maka di Gyokai seluruh biaya pelatihan ditanggung langsung oleh industri mitra.
“Ini efisiensi untuk pemerintah. Industri mau melatih dan membiayai sendiri, karena mereka butuh tenaga kerja yang sesuai kebutuhannya,” katanya.
Saat ini, sekitar 50 industri dari berbagai sektor telah menjadi mitra Gyokai Indonesia Kompeten. Mulai dari industri alas kaki hingga beragam sektor manufaktur lainnya.
Dari kerja sama tersebut, Gyokai mampu menyelenggarakan pendidikan gratis bagi siswa. Seluruh biaya sekolah dan program pemagangan ditanggung oleh industri mitra, dengan konsekuensi kurikulum praktik disesuaikan kebutuhan industri.
“Kurikulum praktik langsung dari industri, pengajarnya juga orang industri. Lulusannya pun langsung ditempatkan kerja. Program ini memang sudah sangat cocok,” ujarnya. (aditya)