SATELITNEWS.COM, LEBAK–Aktivitas pemerataan lahan dan penggalian untuk pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) di Kampung Cilajim, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, membuat warga marah. Pasalnya, proyek tersebut diduga menyerobot area pemakaman umum yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Protes warga mencuat setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan kondisi makam yang disebut telah rusak akibat aktivitas alat berat. Dalam video 3 menit 35 detik itu seorang warga menyampaikan kekecewaannya.
“Assalamualaikum masyarakat Cilajim, Cikadu. Beginilah pemakaman kita yang sudah lama kita jaga sampai hancur karena ada program Koperasi Merah Putih. Kenapa tanah kuburan dipakai, bukan dilestarikan malah diacak-acak. Ini kuburan sudah ratusan tahun diwakafkan ke warga,” tutur warga dalam video.
Warga juga menyoroti minimnya komunikasi sebelum proyek berjalan. Mereka mengaku tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah. “Yang mau ziarah saja jalannya sudah terhalang. Kami kurang paham, tidak ada musyawarah dengan masyarakat, tahu-tahu sudah hancur begini,” lanjutnya.
Tak sampai disitu, warga juga melakukan protes dengan melakukan unjuk rasa di Kantor Desa Cipeundeuy. Aksi mereka sebagai bentuk kekecawan atau kebijakan yang dinilai sepihak tanpa mengedepankan norma orang yang sudah meningal.
Asep Firdaus, warga setempat melalui sambungan teleponnya kepada wartawan, menilai pelaksanaan proyek terkesan serampangan. Ia menyebut pembangunan seharusnya bisa digeser agar tidak menyentuh area makam. “Harapan masyarakat pembangunan tetap berjalan, tapi jangan mengganggu tanah kuburan. Seharusnya bisa diarahkan ke selatan,” ujarnya, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: Lebak Adopsi Pengelolaan MBG-Kopdes ala Sumedang
Menurutnya, sedikitnya lima makam dilaporkan telah terdampak aktivitas alat berat. Ia juga menyebut pemakaman tersebut sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka. “Statusnya memang tanah kehutanan, tapi sebelum Indonesia merdeka pun kuburan itu sudah ada. Itu kuburan umum warga,” katanya.
Ia menjelaskan, pada rencana awal pembangunan, area yang dipatok dan dibersihkan berada di sisi selatan dan tidak menyentuh makam. Namun saat alat berat diturunkan, pengerjaan justru melebar hingga mengenai area pemakaman. “Awalnya tidak kena kuburan. Pas didorong beko, ternyata masuk ke area makam,” ucapnya.
Sementara, Kepala Desa Cipeundeuy, Feni R, memberikan klarifikasi. Ia menyatakan lahan tersebut merupakan milik Perhutani dan tidak pernah ada wakaf atau hibah resmi untuk pemakaman. “Tanah itu milik Perhutani. Dari pihak asper tidak pernah memberikan wakaf atau hibah, baik tertulis maupun lisan, kepada masyarakat,” jelasnya melalui sambungan teleponnya kepada SatelitNews.Com.
Ia juga mengaku telah menerima keterangan dari Ketua LMDH dan sejumlah warga bahwa lahan yang akan digarap koperasi desa pada dasarnya tidak berada di area makam.
“Menurut keterangan, lokasi yang akan dibangun itu jauh dari pemakaman. Terkecuali di dekat pohon kaung memang ada sekitar empat kuburan,” ujarnya. Meski begitu, polemik masih bergulir. Warga berharap ada solusi terbaik agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan keberadaan makam yang mereka anggap memiliki nilai sejarah dan sosial tinggi. (mulyana)
























