SATELITNEWS.COM, TIGARAKSA—Di tengah derasnya arus percakapan di media sosial, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid memilih berdiri dengan sikap yang teduh. Bagi orang nomor satu di Kabupaten Tangerang itu, kritik, masukan, hingga keluhan warga yang berseliweran di linimasa bukanlah gangguan, melainkan cermin kepedulian publik.
“Di era sekarang, media sosial adalah ruang ekspresi. Semua orang berhak menyampaikan pandangan,” ujar Maesyal Rasyid saat berbincang santai dengan Satelit News di ruang kerjanya Puspem Tigaraksa, Jumat (20/2/2026).
Ucapannya mengalir ringan, selaras dengan raut wajahnya yang nyaris tak lepas dari senyum. Di balik nada bicaranya yang tenang, tersirat pemahaman bahwa dinamika digital telah mengubah cara warga berinteraksi dengan pemerintah. Jika dahulu aspirasi lebih banyak disalurkan melalui forum resmi, kini laporan jalan rusak, keluhan banjir, hingga kritik layanan publik kerap muncul melalui unggahan, komentar, maupun video singkat.
Maesyal menegaskan dirinya tidak anti kritik. Baginya, suara-suara warga di ruang digital justru menjadi pengingat bagi jalannya pembangunan. “Itu bentuk perhatian masyarakat terhadap daerahnya. Artinya warga peduli,” katanya.
Kesadaran itu pula yang, menurut Maesyal, mendorong jajaran perangkat daerah untuk lebih responsif terhadap berbagai aduan masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendataan serta verifikasi setiap keluhan yang muncul di media sosial agar dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme kerja pemerintah.
Dalam beberapa kesempatan, laporan warga di media sosial, kata dia, bahkan menjadi pintu masuk bagi perangkat daerah untuk melakukan pengecekan lapangan. “Media sosial bisa menjadi sumber informasi awal. Tapi tentu harus dipastikan datanya, lokasinya, dan kewenangannya,” ujarnya.
Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan pola komunikasi pemerintahan di tingkat daerah, di mana kecepatan respons dan keterbukaan menjadi ekspektasi baru publik. Pemerintah tidak lagi hanya bekerja di balik meja, tetapi juga dituntut hadir dalam ruang percakapan warganya.
Fenomena ini terlihat jelas di Kabupaten Tangerang, wilayah dengan pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi yang dinamis. Seiring perkembangan itu, intensitas diskusi publik di media sosial pun meningkat, menghadirkan beragam pandangan tentang Pembangunan.
Namun bagi Maesyal, hiruk-pikuk digital tidak perlu disikapi secara defensif. Ia memandang kritik sebagai bagian dari dinamika masyarakat yang kian terbuka. “Selama disampaikan dengan itikad baik, tentu menjadi masukan yang berharga,” tuturnya.
Yang terbaru, menanggapi perbincangan publik soal sikap Deddy Corbuzier terkait pemberitaan aturan buka restoran selama bulan puasa, Maesyal Rasyid mengaku pemerintah daerah telah melakukan perbaikan pada regulasi tersebut. Ia menegaskan bahwa kebijakan akan terus dievaluasi agar tetap selaras dengan kepentingan masyarakat dan pelaku usaha.
Di ujung perbincangan, senyumnya tetap terjaga. Nada suaranya pun tak berubah: optimistis, namun realistis. Sebab di era ketika setiap warga dapat menyuarakan pengalaman dan harapannya secara langsung, pemerintah, menurutnya, justru harus semakin piawai mendengar dan bekerja. (dm/fah)
























