SATELITNEWS.COM, LEBAK—Aroma santan hangat bercampur gula merah menyeruak dari dapur sederhana di Kampung Selaraja Tengah, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Di atas tungku bara api, puluhan cetakan daun pisang tersusun rapi. Di sanalah, Emak Iyar (56) menjaga nyala tradisi bernama Jojorong.
Di tengah menjamurnya jajanan modern dan kuliner kekinian, Jojorong khas Kabupaten Lebak tetap bertahan sebagai kudapan favorit masyarakat. Kue berwarna putih dengan lapisan gula merah di dasar ini memang sederhana. Namun teksturnya yang lembut dan cita rasanya yang manis legit membuatnya tak sekadar panganan melainkan bagian dari identitas budaya.
Bagi warga Lebak, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa Jojorong di meja berbuka. Setiap bulan suci tiba, permintaan melonjak tajam. Dari dapur Emak Iyar, ratusan Jojorong lahir setiap hari. “Alhamdulillah, jalan tiap hari. Banyak yang pesan. Makanan tradisional yang paling banyak dicari masyarakat itu gegeplak, jojorong, sama buras,” ujar Emak Iyar sambil merapikan cetakan daun pisang berbentuk mangkuk persegi, Rabu (25/2/2026).
Proses pembuatannya masih setia pada cara lama. Tepung beras dicampur santan kelapa, dipadu irisan gula merah, lalu dituangkan ke dalam wadah daun pisang. Setelah itu, adonan dikukus di atas tungku bara api sekitar satu jam hingga matang sempurna. Aroma daun pisang yang berpadu santan menghadirkan sensasi khas yang sulit tergantikan.
Di saat banyak makanan diproduksi secara instan, ketelatenan itulah yang justru menjadi kekuatan Jojorong. Selama Ramadan, pesanan tak hanya datang untuk Jojorong matang. Geplak, buras hingga risol juga ikut diburu pembeli. Dalam sehari, Emak Iyar bisa memproduksi 300 hingga 500 buah Jojorong. “Harga Jojorong Rp1.500 per buah. Geplak juga sama. Kalau kroket 10 pcs harganya Rp8.000 sampai Rp10.000 sudah pakai sambal,” jelasnya.
Di hari biasa, penghasilannya tak menentu. Namun saat Ramadan, omzetnya bisa menembus jutaan rupiah per hari. “Kadang-kadang sehari dapat kecilnya 300, besarnya 500. Kemarin saja alhamdulillah bisa sampai Rp2 juta,” tuturnya dengan wajah sumringah.
Baca Juga: Produksi Dodol Betawi di Serpong Meningkat Tajam Jelang Idul Fitri
Meski tren kue modern semakin variatif, Emak Iyar memilih tetap bertahan pada resep lama. Baginya, membuat Jojorong bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi melanjutkan warisan orang tua. “Kalau kue modern mah saya enggak bisa. Ini saja meneruskan kerjaan orang tua,” katanya sederhana.
Ia pun berharap ada dukungan modal dari pemerintah untuk membantu pedagang kecil seperti dirinya. Bahkan, ia bercita-cita menjadi penyalur bagi pembuat kue rumahan lain agar bisa sama-sama berkembang. Jojorong mungkin tampak sederhana. Namun dari dapur kecil di Selaraja itu, tersimpan kisah tentang ketekunan, warisan budaya, dan harapan ekonomi masyarakat kecil. Di Lebak, manisnya Jojorong bukan hanya soal rasa tetapi tentang menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah arus zaman.
Kue Jojorong secara resmi ditetapkan sebagai warisan Budaya. Camilan manis dibungkus daun pisang berisi gula merah dan tepung setelah melalui berbagai tahapan pengajuan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia untuk menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. “Alhamdulillah sudah resmi ditetapkan (kue jojorong) menjadi warisan budaya,” ujar Kepala Museum Multatuli, Ubaidillah Muchtar.
Ubaidillah menjelaskan, Kabupaten Lebak telah memiliki Peraturan Bupati Tahun 2018 tentang Kebudayaan yang mengatur tentang Pangan Lokal, Bahasa dan Pakaian. “Dalam upaya Perlindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan (4P), Pemerintah Lebak sudah menerapkan Perbup tersebut. Mulai dari mewajibkan menggunakan panjang lokal disetiap acara formal dan menggunakan bahasa sunda setiap minggu ke empat hari kamis,” tandasnya. (mulyana)

















