SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Menjelang Hari Raya Idul Fitri, aktivitas produksi dodol khas Betawi di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengalami lonjakan signifikan. Usaha rumahan yang biasanya berjalan santai kini berubah menjadi sibuk dengan peningkatan permintaan dari berbagai daerah.
Pemilik usaha Dodol Mugi Jaya, Adel mengungkapkan bahwa jumlah pekerja yang biasanya hanya dua orang meningkat drastis hingga sekitar 20 orang selama bulan Ramadan. Lonjakan tenaga kerja ini diperlukan untuk memenuhi pesanan yang terus berdatangan.
Di dapur produksi, adonan dodol yang terbuat dari tepung ketan, santan kelapa, dan gula aren dimasak dalam jumlah besar. Aroma khas yang harum langsung tercium dari proses memasak yang berlangsung hampir tanpa henti. Memasuki lima hari terakhir sebelum Lebaran, produksi bahkan dilakukan selama 24 jam penuh.
Dalam kondisi normal, usaha ini hanya mampu memproduksi sekitar 300 hingga 500 kilogram dodol per bulan. Namun saat Ramadan hingga menjelang Lebaran, jumlah tersebut melonjak hingga mencapai 3 ton, atau meningkat sekitar 90 persen.
“Ada peningkatan sekitar 90 persen. Kalau sekarang bisa 3 ton,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Dodol Mugi Jaya menawarkan dua varian rasa, yakni original dan wijen, dengan rasa original menjadi favorit pelanggan. Produk ini dijual dengan harga Rp65.000 per kilogram dan tersedia dalam berbagai ukuran kemasan, mulai dari 250 gram hingga 5 kilogram.
Permintaan datang dari beragam kalangan, mulai dari pembeli oleh-oleh, kebutuhan hampers Lebaran, hingga pengiriman ke luar kota seperti Bali dan Surabaya.
“Banyak sih, dari buat oleh-oleh atau buat hampers Lebaran, ada juga buat dikirim paket. Ke Bali juga ada, Surabaya dan lainnya,” bebernya.
Adel, yang merupakan generasi kedua dalam usaha keluarga ini, telah mengenal proses pembuatan dodol sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia juga mengingat masa sebelum pandemi, ketika pesanan sempat mencapai hingga 15 ton menjelang Lebaran, sebelum akhirnya menurun akibat dampak Covid-19.
Meski demikian, Adel tetap optimistis bahwa dodol Betawi masih memiliki tempat di hati masyarakat. Ia yakin, di tengah maraknya camilan modern, dodol tradisional tetap menjadi pilihan untuk melengkapi hidangan khas Lebaran. (eko)