SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Masih dalam suasana HUT ke-33 Kota Tangerang, mahasiswa kembali menggelar unjuk rasa di Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangerang. Kali ini giliran mahasiswa yang tergabung dalam Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang demo pada Senin (2/3/2026) sore. Aksi tersebut diwarnai dengan penyampaian aspirasi yang kritis terhadap kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang.
Massa aksi yang didominasi mahasiswa dari berbagai kampus di Tangerang Raya itu mulai berdatangan sekitar pukul 15.30 WIB. Dengan membawa spanduk dan poster bertuliskan kritik, mereka mendesak Pemkot untuk serius menangani berbagai persoalan yang dinilai tak kunjung tuntas.
Koordinator Lapangan FAM dari Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang, Harri Albukhori, menyampaikan bahwa aksi ini digelar untuk menyoroti program unggulan Pemkot serta masalah klasik perkotaan.
“Kami melakukan orasi terkait kebijakan yang kami kritik, salah satunya program unggulan 3G (Gampang Kerja, Gampang Sekolah, dan Gampang Sembako). Selain itu, kami juga soroti persoalan banjir, sampah, UMKM, dan kondisi jalan yang tiap tahun tidak kunjung selesai,” ujar Harri di hadapan aparat Kepolisian yang berjaga.
Menurut Harri, program 3G yang digadang-gadang sebagai solusi kebutuhan dasar masyarakat dinilai belum menyentuh seluruh lapisan warga. Ia mencontohkan kondisi anak-anak di kawasan Adipura yang masih kesulitan mengakses pendidikan.
“Di daerah Adipura, banyak anak-anak kecil yang seharusnya duduk di bangku sekolah, tapi mereka kesulitan menggapai cita-citanya. Program ini belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat kecil,” tegasnya.
Baca Juga: Sudah 8 Kali Akses Jalan Umum di Cipondoh Ditutup Sepihak
Seperti pada aksi mahasiswa yang dilakukan sebelumnya, dalam momentum ini FAM menyampaikan dua tuntutan utama. Pertama, mereka mendesak Pemkot Tangerang untuk membuka transparansi realisasi anggaran. Kedua, mereka meminta adanya evaluasi terbuka dan menyeluruh terhadap kinerja seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Kami minta Pemkot melakukan transparansi dan evaluasi menyeluruh. Jangan sampai anggaran tidak tepat sasaran sementara rakyat masih kesulitan,” tambah Harri. Lebih lanjut, ia mengkritisi gaya kepemimpinan yang dinilainya kurang memiliki empati terhadap kondisi riil masyarakat bawah. Menurutnya, seorang pemimpin harus hadir dan merasakan langsung kesulitan warganya.
“Pemimpin itu harus merasakan apa yang ada di lapangan. Legitimasi moral seorang pemimpin lahir dari kedekatan dengan rakyatnya. Orang yang bicara soal rakyat kecil tidak akan mendapatkan legitimasi moral kalau tidak hidup seperti rakyat kecil,” ujarnya.
Aksi yang berlangsung hingga menjelang magrib tersebut berjalan tertib di bawah pengawasan ketat aparat kepolisian. Perwakilan mahasiswa diterima oleh perwakilan dari Bagian Hukum dan Organisasi Setda Kota Tangerang untuk menyampaikan berkas tuntutan.
Mereka juga memastikan bahwa aksi ini bukanlah yang terakhir. Mereka mengancam akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan nyata dari pemerintah. “Kalau program tidak diimplementasikan, kami akan terus mengingatkan, bahkan dengan aksi-aksi yang lebih besar lagi nantinya,” pungkas Harri. (ari)
Baca Juga: 392 Jemaah Haji Asal Kabupaten Tangerang Pulang, Tujuh Orang Meninggal di Arab Saudi
