ATELITNEWS.COM, LEBAK – Kinerja awal mesin penggilingan padi (rice milling unit/RMU) milik PT Lebak Niaga (Perseroda) belum optimal. Sejak beroperasi pada Maret 2026, BUMD Kabupaten Lebak itu baru menyerap sekitar 60 ton gabah lokal, jauh di bawah target.
Direktur PT Lebak Niaga, Ilham Akbar,
mengatakan perusahaan menargetkan serapan gabah mencapai 20 ton per hari. Namun, realisasi masih rendah akibat sejumlah faktor, seperti kualitas gabah dan mekanisme harga di tingkat petani.
“Gabah yang ada tidak serta-merta bisa kami terima. Harus melalui seleksi kualitas, termasuk penyesuaian harga agar tetap kompetitif,” ujar Ilham, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan, pasokan gabah saat ini masih didominasi wilayah sekitar, seperti Rangkasbitung Timur, Sentral, Cipendeuy, dan Cibadak. Informasi ketersediaan gabah diperoleh melalui jaringan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Untuk meningkatkan serapan, perusahaan telah berkoordinasi dengan dinas terkait guna memperluas jangkauan dan memetakan daerah potensial penghasil gabah di Kabupaten Lebak.
“Koordinasi terus dilakukan agar suplai gabah lebih stabil dan sesuai kebutuhan produksi harian,” katanya.
Meski menghadapi kendala, Ilham optimistis serapan akan meningkat pada musim panen berikutnya. Namun, ia mengakui ruang serapan tahun ini masih terbatas karena sebagian petani telah bermitra dengan pembeli lain.
Guna menjaga operasional, PT Lebak Niaga membuka peluang pasokan gabah dari luar daerah dengan standar kualitas yang sama.
Selain itu, perusahaan memproduksi beras premium dan medium untuk menjangkau pasar lebih luas, dengan harga yang diklaim kompetitif.
Baca Juga: Cegah Pencurian dan Tawuran, Polisi Patroli Malam di Lebak
“Kami sesuaikan dengan kebutuhan konsumen dan menjaga harga tetap terjangkau,” pungkasnya. (made)





















