SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Jalan terjal merintangi perkembangan sepak takraw di Indonesia. Keputusan pemerintah tidak menjadikan sepak takraw sebagai prioritas menyebabkan perkembangan olahraga ini terhambat.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Surianto mengungkapkan sepak takraw tidak menjadi unggulan dan prioritas karena dianggap belum mendunia. Hingga saat ini, sepak takraw baru bisa dipertandingkan di level Asia Tenggara dan Asia.
“Sepak takraw bukan unggulan dan prioritas karena hanya dipertandingkan di SEA Games dan Asian Games. Belum sampai ke Olimpiade,” ungkap Surianto seusai melantik pengurus PSTI Banten di Tangerang, Jumat (10/4) lalu.
Persoalan demi persoalan kemudian muncul seusai keputusan pemerintah tersebut. Salah satu permasalahan besar yang dihadapi adalah PSTI tidak lagi mendapatkan pendanaan dari Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga. Padahal, pendanaan dari pemerintah diperlukan untuk membiayai berbagai program PSTI. Di antaranya adalah pemusatan latihan nasional
(Pelatnas) sepak takraw. Untuk mengatasi masalah dana tersebut, kata dia, PSTI akan berusaha mencari sponshorship.
“Kami belum mendapatkan anggaran dari Kemenpora. Untuk sementara ini pelaksanaan program kerja masih dibiayai pengurus,” ujar Surianto.
PSTI pun terpaksa mengadakan pelatnas secara mandiri mulai 14 April 2026. Sebanyak 15 atlet putra dan 15 atlet putri akan menjalani training center sebelum dikirimkan ke Malaysia untuk mengikuti kejuaraan dunia sepak takraw.
Baca Juga: DPRD Kota Tangerang Dorong MMA Jadi Wadah Positif Pelajar
“Pelatnas ini inisiatif dari PB PSTI. Ini pelatnas mandiri,” imbuh dia.
Permasalahan berikutnya adalah sepak takraw terancam tidak dipertandingkan di ajang PON XXII 2028/NTT-NTB. Surianto menegaskan tidak dipertandingkannya sepak takraw juga disebabkan masalah biaya.
“Kami belum tentu masuk PON karena anggarannya dibatasi. Ini tergantung Kemenpora, apakah kami diikutkan di PON atau tidak,” ungkap Surianto.
Di tengah keterbatasan anggaran, PSTI berharap sepak takraw dapat terus berkembang. Pembinaan atlet tetap harus dilakukan.
Saat melantik Pengprov PSTI Provinsi Banten periode 2026-2030, Surianto meminta agar organisasi yang dipimpin Agus Supriatna mengutamakan program pembinaan atlet secara berjenjang.
“Kami berpesan agar Pengprov PSTI Banten melakukan pembinaan secara berjenjang mulai SD, SMP dan SMA. Sehingga bisa menghasilkan atlet yang akan dibina di level nasional,” ujar Surianto.
Baca Juga: SK Diserahkan, Ini Daftar Cabor yang Dipertandingkan di Porprov VII Banten 2026
Dia menilai atlet sepak takraw di Banten memiliki potensi untuk berkembang lebih baik. Itu dilihat dari keberhasilan Banten meraih medali di berbagai kejuaraan sepak takraw. Di antaranya PON XXI Aceh-Sumut.
Ketua Pengprov PSTI Banten Agus Supriatna mengungkapkan pembinaan atlet secara berjenjang dan berkelanjutan merupakan salah satu program yang akan dilaksanakan. Menurut dia, pembinaan dilakukan di level pengurus kota/pengurus kabupaten hingga ke tingkat provinsi.
Program kedua yang akan dilaksanakan adalah digitalisasi organisasi. Menurut Agus, digitalisasi dilakukan terhadap pendataan atlet.
Setelah itu, kata Agus, PSTI Banten juga berencana melakukan peningkatan kualitas wasit dan pelatih. Mantan Ketua PSTI Kabupaten Tangerang ini menegaskan wasit dan pelatih sepak takraw harus memiliki kompetensi.
“Kami juga ingin melakukan penguatan kompetisi yang terstruktur dan berjenjang. Saat ini atlet masih berlatih namun belum ada kompetisinya. Terkait kompetisi, tahun ini ada Popda dan Porprov Banten. Sehingga setelah Porprov kami baru akan melaksanakan kompetisi, “ujar Agus.
Pria yang juga Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang ini menambahkan memajukan sepak takraw tidak cukup program yang baik. Tapi juga memerlukan kolaborasi serta kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Baca Juga: Pengprov PSTI Banten Resmi Dilantik, Pembinaan Berjenjang Jadi Program Utama
“Dengan kolaborasi kita harapkan Banten bisa berprestasi di tingkat nasional,” pungkas Agus. (gatot)
