SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Pemerintah percaya diri ekonomi Indonesia masih akan melaju kencang di awal 2026. Tapi di saat yang sama, rupiah justru terseret melemah hingga menembus Rp 17.300 per dolar AS.
Dorongan pertumbuhan terlihat dari belanja negara dan konsumsi masyarakat yang menguat selama Ramadan dan Lebaran. Namun di pasar keuangan, tekanan belum juga reda, mencerminkan kuatnya pengaruh faktor global terhadap perekonomian domestik.
Optimisme terhadap ekonomi kuartal I tetap berada di jalur positif disuarakan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Konsumsi rumah tangga disebut menjadi penopang utama, terutama saat momen hari besar keagamaan, ditambah penyaluran tunjangan hari raya (THR) dan percepatan belanja pemerintah.
“Pertumbuhan di triwulan pertama cukup baik, ditopang konsumsi rumah tangga, penyaluran THR, serta akselerasi belanja dan stimulus yang mencapai Rp 809 triliun,” kata Airlangga di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Dorongan ini juga tercermin dari sisi anggaran negara. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5 persen. Jika terealisasi, angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,9 persen. Namun, angka resmi masih menunggu rilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Dari sisi fiskal, belanja negara hingga kini telah mencapai Rp 815 triliun atau sekitar 31,4 persen dari target tahunan. Sementara itu, pendapatan negara tumbuh 10,5 persen menjadi Rp 574,9 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor perpajakan.
Baca Juga: Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dari Australia Open
Pemerintah juga masih mengandalkan investasi sebagai salah satu penggerak utama ekonomi, dengan target mencapai Rp 2.041,3 triliun sepanjang tahun ini. Pada kuartal berikutnya, pemerintah akan mencari berbagai upaya untuk menopang pertumbuhan ekonomi, seperti pembayaran gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Juni mendatang hingga program jaring pengaman sosial (social safety net).
“Pembayaran gaji ke-13 di bulan Juni dan program social safety net tetap berjalan. kita melihat salah satu utama yang bisa mendongkrak sektornya Menteri Investasi, atau investasi,” imbuh Airlangga.
Sejumlah indikator makro masih memberi ruang optimisme. Suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan di level 4,75 persen, neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, dan cadangan devisa tetap kuat di kisaran US$ 148,2 miliar.
Namun di sisi lain, tekanan mulai terlihat di pasar keuangan. Rupiah pada Kamis (23/4) sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS, melemah dibandingkan hari sebelumnya dan melampaui asumsi APBN di level Rp 16.500. Berdasarkan data Bloomberg, pelemahan terjadi sekitar 0,7 persen dalam perdagangan harian.
Airlangga menilai tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi kondisi global, termasuk gejolak di kawasan dan ketidakpastian pasar. “Berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan tersebut, sementara stabilitas nilai tukar menjadi kewenangan Bank Indonesia. “Kita monitor saja. Itu tugasnya BI menjaga.”
Baca Juga: Indonesia vs Australia, Jalan Menuju Final
Bank Indonesia mengakui tekanan terhadap rupiah meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan pelemahan ini masih sejalan dengan tren kawasan, dengan penurunan sekitar 3,54 persen sejak awal tahun.
Menurut Destry, ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar. Untuk merespons kondisi tersebut, BI memperkuat intervensi di berbagai pasar, baik di offshore maupun domestik, serta melakukan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.
“Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten,” kata Destry.
Cadangan devisa tercatat tetap kuat di level US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah secara konsisten dan terukur. (rmg/xan)
