SATELITNEWS.COM LEBAK– Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, bengkel pandai besi tradisional di Kabupaten Lebak banjir pesanan. Para konsumen umumnya memesan golok dan pisau untuk kebutuhan penyembelihan hewan kurban.
Salah satunya seperti yang disampaikan pandai besi bernama Amsori (54) di Kampung Pulokempis, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung.
Hampir setiap hari, suara denting besi terdengar dari bengkel sederhana di belakang rumahnya. Bersama dua pekerjanya, Amsori sibuk menempa besi panas menjadi golok dan pisau khas Lebak yang dikenal kuat dan tajam.
Lonjakan permintaan mulai terasa sepekan menjelang Lebaran Haji 2026. Tak hanya menerima pembuatan golok baru, Amsori juga melayani jasa servis dan pengasahan alat tajam milik warga yang akan digunakan saat pemotongan hewan kurban.
“Menjelang Lebaran Haji ini ada peningkatan pesanan. Kalau hari biasa paling empat sampai lima pesanan, sekarang sampai kewalahan. Bahkan ada pesanan yang terpaksa ditolak karena tenaga terbatas,” kata Amsori kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).
Di tengah maraknya produk impor dan produksi massal pabrikan, usaha pandai besi tradisional yang dijalani secara turun-temurun itu masih tetap bertahan dan diminati masyarakat. Menurut Amsori, banyak pelanggan lebih memilih golok buatan tangan karena dianggap lebih kuat dan tahan lama.
Tak hanya mengandalkan kualitas besi, Amsori juga mempertahankan sentuhan tradisional pada setiap produknya. Gagang dan sarung golok dibuat menggunakan kayu mahoni dengan ukiran khas, sementara pewarnaan sarung masih memakai bahan alami dari daun jati.
Selain golok dan pisau, bengkel miliknya juga menerima pembuatan alat tajam lainnya seperti arit, kujang hingga cangkul sesuai pesanan pelanggan. Dalam sehari, ia mampu memproduksi belasan hingga puluhan alat tajam.
Namun, meningkatnya permintaan tak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang dimiliki. Saat ini, Amsori hanya dibantu dua orang pekerja setelah salah satu anaknya memilih merantau ke Jakarta.
“Tadinya tiga orang. Yang satu anak saya ingin cari pengalaman ke Jakarta. Jadi sekarang tinggal berdua saja, makanya kewalahan,” ujarnya.
Untuk jasa servis golok dan pisau, Amsori mematok harga mulai Rp25 ribu hingga Rp60 ribu tergantung tingkat kerusakan. Sedangkan golok dan pisau baru dijual mulai Rp100 ribu hingga Rp600 ribu sesuai ukuran dan bahan yang digunakan.
“Untuk servis harganya bervariasi, ada yang Rp25 ribu, Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Kalau yang baru juga begitu, ada yang Rp150 ribu, Rp300 ribu sampai Rp600 ribu tergantung barangnya,” ucapnya.
April (30), warga Kampung Cigundi, Kecamatan Cibadak, mengaku sengaja datang untuk membuat golok baru sekaligus mengasah alat tajam miliknya menjelang Iduladha.
“Saya datang ke sini untuk bikin golok buat potong daging hewan kurban. Kalau pisaunya sudah tumpul biasanya diasah lagi di sini. Hampir setiap tahun saya bikin atau servis golok ke Pak Amsori,” kata April.
Menurutnya, golok buatan pandai besi tradisional lebih awet dibandingkan produk pabrikan yang banyak dijual di pasaran.
“Kalau dari pabrik cepat rusak dan tidak tahan lama. Kalau kita bawa bahan sendiri kan lebih puas,” pungkasnya.(mulyana)