SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Angin segar bagi pertanian Pandeglang berhembus dari Kampung Santri Madeenah Indonesia, Blok Cijantung, Desa Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang.
Rabu – Kamis pagi lalu, halaman P4S LAB TANDUKASI ramai. Rombongan Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, tiba untuk melakukan visitasi langsung ke Laboratorium Pertanian Terpadu, yang digerakkan oleh para santri, guru, petani muda dan warga sekitar dibawah pengawalan entitas Manajemen Pesantren Model Pusat – Madeenah Indonesia.
Kunjungan ini, bukan sekadar seremonial semata, melainkan menjadi titik temu antara kebijakan Pemerintah Provinsi dengan gerakan pertanian akar rumput, yang sudah berjalan di lapangan.
Rombongan dipimpin oleh Plt. Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Dr. Nasir, bersama 3 Kepala Bidang dan seluruh staf teknis, mereka menyusuri area penangkaran bibit unggul manggis Bojong.
“Yang kita lihat, adalah bukti bahwa potensi lokal bisa naik kelas. Manggis Bojong sudah memenuhi standar kualitas ekspor. Tugas kami sekarang, adalah memastikan legalitas dan sertifikasinya berjalan cepat, dan itu butuh entitas kelembagaan yang kuat seperti P4S,” ujar Dr. Nasir, Jumat (22/5/2026).
Fokus utama visitasi, memang pada komoditas unggulan Manggis Bojong. Dengan karakteristik buah tebal, biji kecil, dan rasa manis khas, manggis Bojong selama ini sudah dilirik pasar luar negeri. Kehadiran P4S LAB TANDUKASI diharapkan menjadi payung kelembagaan untuk proses sertifikasi, pengawasan mutu, hingga penyaluran bibit ke petani.
Kunjungan ini terasa istimewa, karena datang setelah P4S LAB TANDUKASI resmi mengantongi sertifikat dari BPPSDMP Kementerian Pertanian RI, melalui BPPKH Cinagara Bogor.
“Sejak sertifikat itu terbit, semua keraguan terjawab. Gerakan pertanian yang kami rintis bersama Ponpes Model Noor El-Madeenah sekarang punya pijakan hukum dan kelembagaan yang jelas,” kata pengelola P4S, Waluyo.
Status P4S sebagai Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya, menjadikan LAB TANDUKASI bukan hanya tempat produksi, tapi juga pusat pelatihan, perbenihan, dan pendampingan petani di wilayah Banten Selatan.
Turut mendampingi kunjungan adalah, Usin Mukhlisin, Penyuluh Pertanian Lapangan Bojong sekaligus salah satu Pembina Utama P4S LAB TANDUKASI. Ia menjadi jembatan antara petani, pesantren, dan pemerintah.
“Kami di lapangan sangat berharap keberpihakan semua unsur terus menguat. Tanpa dukungan kebijakan dan pendampingan teknis, potensi sebesar ini bisa stagnan,” ungkap Usin.
Harapan itu, direspons positif oleh Dr. Nasir. Ia menekankan, keberhasilan program pertanian tidak bisa berjalan sendiri. Butuh sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten, penyuluh, pesantren, dan petani.
Kampung Santri Madeenah Indonesia melalui Ponpes Model Noor El-Madeenah dan Santri Tani Milenial Jayabinangun (STMJ) Nasional, memang bergegas menjadikan pertanian sebagai salah satu pilar dakwah dan pemberdayaan ekonomi. Model P4S LAB TANDUKASI menggabungkan ilmu syar’i, teknologi pertanian modern, dan praktik langsung di lapangan.
Kunjungan Distan Banten, menjadi validasi bahwa model ini layak direplikasi. Pertanian tidak lagi dilihat sebagai pekerjaan berat dan kuno, tetapi sebagai sektor yang keren, mulia, dan bernilai ekonomi tinggi.
Visitasi ini, menandai babak baru bagi Manggis Bojong. Jika proses sertifikasi ekspor berjalan lancar, bukan tidak mungkin dalam 1-2 tahun ke depan buah khas Pandeglang ini akan menghiasi pasar Asia dan Timur Tengah dengan label “Produk Santri Pandeglang”.
Di balik itu semua, ada cerita tentang bagaimana pesantren, petani muda, dan pemerintah bisa duduk bersama membangun kemandirian pangan dari desa.
Sambutan hangat dari Penjab P4S Uung M. M. Shobari, sekaligus juga salah satu Waketum STMJ Nasional memberikan apresiasi yang mendalam atas rekognisi ini kepada rombongan Dispertan Pemprov Banten, tentu dengan memberikan suasana yang natural ditambah sajian ala Kampung Santri Cijantung, seperti es kelapa muda, rebus kacang tanah, umbi kecil kumbili serta pisang mulih asli hasil perkebunan Cijantung, Bojong, Pandeglang – Banten memberikan bukti selama ini tidak sebatas wacana di atas meja, tapi bukti terus berkarya. (mardiana)