SATELITNEWS.COM, TANGSEL — Keluhan warga Kampung Jati, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, yang kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur mengering di musim kemarau mendapat perhatian DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Menindaklanjuti laporan tersebut, Anggota DPRD Tangsel Julham Firdaus melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sebuah usaha produksi es kristal yang diduga menjadi salah satu penyebab berkurangnya debit air tanah di kawasan itu.
Sidak dilakukan setelah Julham menerima banyak aspirasi masyarakat, baik melalui media sosial maupun laporan langsung dari warga sekitar. Warga menduga aktivitas pengambilan air tanah oleh pabrik es tersebut berdampak pada menurunnya debit air sumur di lingkungan permukiman.
“Karena lingkungan mengeluh kekeringan saat musim kemarau, ternyata dampak vitalnya ada di sumur bor yang digunakan untuk produksi es,” ujar Julham dalam keterangan yang diterima, Jumat (24/7/2026).
Dalam sidak tersebut, Julham mengaku menemukan dugaan pelanggaran administrasi. Menurutnya, pelaku usaha belum mengantongi izin terkait pemanfaatan air tanah, termasuk Surat Izin Pengambilan Air Tanah (SIPA) maupun sejumlah rekomendasi teknis yang menjadi syarat operasional.
“Saya kunjungi, mereka belum memiliki SIPA atau izin pengambilan air tanah dan tidak mengantongi rekomendasi-rekomendasi yang harus dimiliki oleh pelaku usaha di Tangerang Selatan,” katanya.
Atas temuan itu, Julham meminta pemilik usaha menghentikan sementara kegiatan produksi hingga seluruh perizinan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Kapolresta Tangerang Dorong Generasi Muda Jadi Pelopor Kamtibmas
Meski demikian, ia menegaskan penghentian sementara aktivitas produksi tidak boleh merugikan para pekerja. Julham meminta perusahaan tetap membayarkan insentif harian kepada para pekerja lepas selama operasional dihentikan.
Ia juga mengingatkan seluruh pelaku usaha yang berinvestasi di Kota Tangerang Selatan agar melengkapi seluruh perizinan dan rekomendasi teknis sebelum menjalankan usahanya.
“Jadi silakan berinvestasi di Tangsel, bangun usaha di Tangsel harus memiliki izin terlebih dahulu, rekomendasi terlebih dahulu, dan mengikuti aturan-aturan yang ada agar dampak terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitar tidak terjadi,” jelasnya.
Menurut Julham, kepatuhan terhadap regulasi merupakan langkah penting agar kegiatan usaha tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun lingkungan.
Sebelumnya, warga Kampung Jati RT 03 RW 05, Kelurahan Buaran, mengeluhkan sumur mereka mengalami penurunan debit hingga mengering dalam beberapa hari terakhir. Warga menduga kondisi tersebut dipicu aktivitas sebuah pabrik es kristal yang beroperasi di lingkungan permukiman.
Salah seorang warga mengaku sumurnya sudah tidak mengeluarkan air selama sekitar tiga hari. Berdasarkan informasi yang diterima warga, pabrik diduga menggunakan sumur bor dengan sistem yang disebut sebagai “sumur satelit”, sehingga dikhawatirkan memengaruhi ketersediaan air tanah di sekitar lokasi. Warga juga menduga mesin penyedot air tersebut terkadang beroperasi selama 24 jam penuh.
Baca Juga: Curanmor Diduga Bersenjata Api Gegerkan Citra Raya, Polresta Tangerang Lakukan Penyelidikan
Salah satu warga, Yuni, berharap pihak perusahaan membantu menyediakan sumur bor baru untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak.
“Saya cuma minta air bersih, karena sudah beberapa hari susah, tidak ada air di rumah. Bingung juga setiap mau mandi harus numpang terus. Tadinya tidak pernah mengering. Saya merasa ini terdampak dari pabrik es karena mungkin mereka pakai sistem satelit, jadi air warga tidak keluar,” ucapnya.
Sementara itu, pemilik usaha pengolahan es batu diketahui telah dipanggil pada Kamis (23/7/2026). Dalam pertemuan tersebut, sejumlah persoalan dibahas, mulai dari penggunaan air untuk kebutuhan produksi, kondisi sumur warga, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan selama musim kemarau.
Menindaklanjuti persoalan itu, Julham menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya meng oleh pabrik disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menyarankan perusahaan memanfaatkan pasokan air dari luar pada waktu-waktu tertentu agar ketersediaan air tanah bagi warga tetap terjatur penggunaan air agar tidak mengganggu kebutuhan warga, memprioritaskan penggunaan air kiriman untuk kegiatan produksi, serta membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat selama musim kemarau.
“Ini musim kemarau, saya minta difasilitasi air bersih untuk lingkungan yang terdampak. Sampai nanti kita coba sepakati,” ujarnya.
Anggota Fraksi Demokrat itu juga meminta penggunaan air oleh pabrik disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menyarankan perusahaan memanfaatkan pasokan air dari luar pada waktu-waktu tertentu agar ketersediaan air tanah bagi warga tetap terjaga. (eko/aditya)

















