SATELITNEWS.COM, LEBAK – Musim kemarau tidak hanya membuat sebagian wilayah di Kabupaten Lebak kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi cuaca yang panas dan kering juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan yang perlu diantisipasi masyarakat.
Debu yang beterbangan, keterbatasan air untuk kebutuhan sehari-hari hingga kebersihan lingkungan menjadi sejumlah persoalan yang berpotensi memicu penyakit. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, hingga demam berdarah dengue (DBD) menjadi beberapa penyakit yang patut diwaspadai selama musim kering berlangsung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Nining Tilawah, mengatakan keterbatasan air bersih dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit, terutama diare. Kondisi tersebut terjadi ketika masyarakat kesulitan memperoleh air yang layak untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kekeringan kan sumber air juga minim. Akses masyarakat terhadap air bersih mungkin kurang, sehingga potensi terjadinya diare juga tinggi,” kata Nining, belum lama ini. Menurutnya, masyarakat tidak boleh mengabaikan kebersihan meskipun berada dalam kondisi sulit air. Air yang digunakan untuk minum maupun keperluan rumah tangga harus dipastikan bersih agar tidak menjadi sumber penyakit. Di sisi lain, Dinkes Lebak juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman DBD. Musim kemarau bukan berarti risiko penyakit yang ditularkan nyamuk otomatis hilang.
Nining menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti yang menjadi pembawa virus dengue justru dapat berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air bersih yang tidak terawat. Karena itu, kebiasaan menyimpan air selama musim kemarau harus dibarengi dengan perhatian terhadap kebersihan tempat penampungannya. “DBD juga bisa terjadi karena masyarakat menyimpan air. Kadang bak air tidak dikuras karena airnya sayang untuk dibuang, akhirnya justru menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti,” jelasnya.
Dia meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam mencegah munculnya penyakit. Kebersihan lingkungan rumah dan tempat penampungan air dinilai menjadi bagian penting dalam memutus potensi penyebaran penyakit. Nining menekankan pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama ketika kondisi lingkungan sedang menghadapi musim kering. “Pokoknya yang penting masyarakat harus melakukan perilaku hidup bersih dan sehat,” tegasnya. Selain Diare, gangguan pernapasan juga menjadi perhatian.
Baca Juga: DPRD Kota Tangerang Dorong Penyediaan Air Bersih dan Salat Istisqa
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Feby Rizki Pratama, mengatakan kondisi sejumlah wilayah yang dipenuhi debu selama kemarau berpotensi berdampak terhadap kesehatan warga. “Di musim kering ini tentunya kesehatan juga harus diperhatikan. Kami sudah berkoordinasi dengan teman-teman di kesehatan sebagai klaster kesehatan,” ujarnya.
Feby menyebut kondisi lingkungan dengan tingkat debu yang cukup tinggi menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi. Masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah dengan kondisi jalan berdebu dan kering, diminta meningkatkan perlindungan diri agar tidak mudah terserang ISPA. “Misalnya di daerah-daerah yang cukup ekstrem debunya itu untuk ISPA, kita harus mengantisipasi hal tersebut,” katanya.
Ancaman kesehatan juga muncul dari persoalan sanitasi. Menurunnya debit sungai akibat kemarau membuat sebagian warga yang masih mengandalkan aliran sungai untuk aktivitas mandi, cuci dan kakus harus lebih berhati-hati. BPBD mengkhawatirkan penggunaan air sungai yang kondisinya semakin surut dan kotor dapat memicu penyakit apabila kebersihan air tidak diperhatikan. “Kemudian mereka yang masih menggunakan sungai untuk mandi cuci kakus juga kami khawatirkan terkena penyakit akibat air yang tidak bersih. Sungainya kan sudah mulai kering,” tutur Feby.
Sementara, BPBD Lebak mencatat persoalan yang muncul selama musim kemarau tidak sebatas kekurangan air. Risiko kebakaran juga ikut meningkat seiring kondisi lingkungan yang semakin kering. Berdasarkan data dari jajaran Pemadam Kebakaran (Damkar), terdapat sekitar 35 kejadian kebakaran yang tercatat sepanjang Juli 2026. Angka tersebut menjadi peringatan agar masyarakat tidak sembarangan melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.
“Kalau kebutuhan air bersih tentunya menjadi persoalan. Tapi selain itu, kalau melihat data dari teman-teman Damkar, sepanjang Juli saja ada sekitar 30-an, mungkin sekitar 35 kejadian kebakaran. Itu juga perlu diwaspadai,” ungkap Feby.
Meski berbagai potensi gangguan kesehatan telah diantisipasi, Dinkes Lebak memastikan sampai saat ini belum menemukan adanya laporan peningkatan penyakit yang secara langsung dikaitkan dengan musim kemarau. “Alhamdulillah sejauh ini masih aman untuk masalah kesehatan. Itu saja memang masalah air bersih,” ujar Nining.
Baca Juga: Bantu Wilayah Terdampak Kekeringan, PMI Banten Salurkan 840 Ribu Liter Air Bersih
Kendati demikian, masyarakat tetap diminta tidak menunggu sampai muncul kasus penyakit. Menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan air yang layak, membersihkan tempat penampungan air secara rutin serta mengurangi paparan debu menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau. (mulyana)




















