SATELITNEWS.COM, SERANG – Jumlah pasien yang menjalani cuci darah atau hemodialisia di Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang, mengalami peningkatan. Jumlah pasien yang menjalani layanan tersebut, mencapai sekitar 200 hingga 300 orang.
Direktur Utama RSDP Serang, Rachmat Setiadi, mengatakan peningkatan pasien cuci darah menjadi perhatian serius pihak rumah sakit.
Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir, tren penyakit ginjal mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
“Tren sekarang di Kabupaten Serang dan wilayah Banten, orang-orang yang sakit ginjal itu meningkat, termasuk di usia-usia muda,” kata Rachmat, saat ditemui usai memperingati HUT RSDP Serang, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, peningkatan jumlah pasien tersebut membuat RSDP Serang terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan, salah satunya dengan menambah sarana dan prasarana untuk layanan hemodialisis.
Rachmat menjelaskan, kapasitas layanan hemodialisis di RSDP Serang sebelumnya memiliki sekitar 30 alat atau tempat tidur. Kini kapasitas tersebut, ditingkatkan menjadi 40 alat atau tempat tidur.
Baca Juga: Peringati HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Bupati Serang: Kita Maksimalkan Pelayanan Dasar
“Untuk sarana prasarana HD atau cuci darah, ditingkatkan dari 30 alat, sekarang menjadi 40 alat,” ujarnya.
Dengan penambahan fasilitas tersebut, RSDP Serang diharapkan mampu mengantisipasi lonjakan jumlah pasien, sekaligus memberikan pelayanan yang lebih optimal bagi masyarakat.
Dalam sehari, layanan hemodialisis di RSDP Serang dilakukan dalam dua shift. Setiap shift dapat melayani sekitar 40 pasien, sehingga dalam satu hari terdapat sekitar 80 pelayanan. Sementara jadwal cuci darah pasien berbeda-beda, ada yang menjalani satu kali maupun dua kali dalam sepekan.
“Kalau dua shift, sekitar 80 pasien sehari. Ada yang satu hari, ada yang dua hari. Kalau dua hari saja sudah ada 160, sehingga jumlah pasien sekitar 200 sampai 300,” jelas Rachmat.
Kata Rachmat, RSDP Serang sendiri tidak hanya melayani pasien dari Kabupaten dan Kota Serang. Sebagai salah satu rumah sakit rujukan, pasien yang menjalani hemodialisis juga berasal dari sejumlah daerah lain di Banten, seperti Pandeglang dan Rangkasbitung.
Namun apabila memungkinkan, pasien akan diarahkan untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Namun, pihaknya tetap memberikan pelayanan bagi pasien yang ingin melanjutkan cuci darah di RSDP Serang.
Baca Juga: Elnino, Bupati Serang Pastikan Terus Mitigasi Kebutuhan Air Bersih
“Rumah sakit ini salah satu rujukan. Kalau memungkinkan untuk dikembalikan ke rumah sakit terdekat, misalnya di Pandeglang atau Rangkas, kita kembalikan. Kalau ingin tetap di sini, juga tidak ada masalah,” pungkasnya.
Selain menambah fasilitas, RSDP Serang juga melakukan inovasi pelayanan dengan membuat buku kendali pasien hemodialisis. Buku tersebut digunakan untuk mencatat kondisi pasien sebelum, saat, dan setelah menjalani proses cuci darah.
“Inovasi yang kita lakukan adalah, membuat buku kendali pasien HD atau cuci darah. Jadi sebelum dilakukan hemodialisa, pada waktu cuci darah, dan setelah cuci darah, ada catatan-catatan kondisi pasien,” ungkapnya.
Yang menjadi perhatian, kata Rachmat, perubahan tren pasien penyakit ginjal dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Jika sebelumnya pasien lebih banyak berasal dari kelompok usia lanjut, kini mulai banyak pasien dari usia produktif, bahkan berusia 20 hingga 40 tahun.
“Dua sampai tiga tahun ini trennya menengah ke bawah atau usia produktif. Umurnya dari 40 tahun ke bawah, dari 20, 30 sampai 40 tahun,” tuturnya.
Kondisi tersebut, dinilai perlu mendapat perhatian bersama. Rachmat menyebut edukasi mengenai pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi perlu diperkuat, khususnya kepada anak-anak dan masyarakat usia muda.
Ia mengatakan, pihak pemerintah daerah juga mendorong adanya edukasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat agar pola konsumsi makanan lebih terkontrol.
“Kita sangat sayangkan. Ibu Bupati juga menyarankan agar kita mengadakan edukasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat, supaya makanan yang dikonsumsi anak-anak kita lebih terkontrol, dengan makanan yang sehat dan higienis,” tuturnya lagi.
Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, membenarkan bahwa dirinya mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan yang dapat memicu tingginya kadar gula darah serta menjaga tekanan darah agar tetap terkendali.
“Jangan mengonsumsi makanan-makanan yang memicu tingginya gula. Kemudian tekanan darah juga tidak boleh naik dan harus kita minimalisir,” tukasnya.
Kata Zakiyah, untuk menekan jumlah kasus penyakit yang berujung pada kebutuhan cuci darah, Pemkab Serang mendorong upaya promotif dan preventif melalui edukasi kepada masyarakat.
Koordinasi akan dilakukan dengan berbagai sektor, khususnya Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, untuk memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat kepada masyarakat, termasuk para peserta didik.
“Kita akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya warga belajar. Sehingga ke depan kita bisa mengeliminasi dan tidak semakin banyak masyarakat yang harus cuci darah,” imbuhnya. (sidik)






















