SATELITNEWS.COM, LEBAK–Doa dan air mata mengiringi penantian keluarga Muhammad Bagus Khoirunnas. Setelah pencarian resmi dihentikan, keluarga bersama warga tetap memanjatkan doa, berharap jurnalis Antara yang hilang di perairan Selat Sunda itu dapat kembali pulang dalam keadaan selamat.
Suasana haru itu terasa di kediaman keluarga Bagus di Kampung Pasir BPM, Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Sabtu 19/9/2026) malam. Warga berkumpul untuk membaca Yasin dan mendoakan Bagus bersama tujuh orang lainnya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Bagi keluarga, tidak banyak yang dapat dilakukan selain terus berdoa dan menjaga harapan. Meski proses pencarian telah dihentikan, mereka belum ingin menutup pintu harapan terhadap kepulangan Bagus.
Orang tua Bagus, Mansyur, mengatakan keluarga berusaha menerima kondisi yang terjadi. Namun, sebagai orangtua, dirinya masih berharap ada keajaiban yang membawa putranya kembali ke rumah. “Semoga dengan doa dan membaca Yasin ada keajaiban, sehingga Bagus dan yang lainnya bisa ditemukan dalam kondisi sehat dan selamat,” ujar Mansyur.
Pembacaan Yasin bersama warga tersebut dijadwalkan berlangsung selama enam hari. Kegiatan itu menjadi bentuk ikhtiar keluarga sekaligus upaya menguatkan hati setelah berhari-hari menunggu kabar tentang keberadaan Bagus.
Bagus diketahui berada di dalam KM Arupadhatu 1 bersama empat jurnalis lainnya dan tiga awak kapal. Kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Senin (7/9/2026), untuk membawa rombongan melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga: Gugatan Kandas, Kantor DPW PPP Banten Diminta Segera Diserahkan
Namun, dalam perjalanan di perairan Selat Sunda, kapal tersebut kehilangan kontak. Sejak saat itu, keberadaan delapan orang di dalamnya belum diketahui. Pencarian sempat dilakukan tim SAR gabungan dengan menyisir sejumlah wilayah perairan menggunakan kapal dan dukungan udara. Area pencarian juga diperluas hingga perairan Lampung.
Waktu terus berjalan tanpa kabar mengenai Bagus dan rombongan. Kondisi tersebut membuat keluarga harus menghadapi penantian panjang sekaligus ketidakpastian. Meski begitu, keluarga memilih tetap percaya pada kekuatan doa. Di tengah suasana duka dan harapan yang bercampur, mereka masih menanti satu kabar yang paling diinginkan.
Bagus pulang ke rumah dan kembali berkumpul bersama keluarga. Bagi keluarga, lantunan doa yang dipanjatkan bersama warga bukan sekadar ritual. Doa menjadi cara untuk menjaga harapan agar Bagus dan seluruh rombongan diberikan keselamatan dan suatu saat dapat kembali ke rumah.(mulyana)
















