SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang, menyiapkan program percontohan pengolahan sampah di tingkat rumah tangga.
Program tersebut, rencananya mulai disosialisasikan dan diedukasikan kepada masyarakat pada Oktober 2026 ini.
Kepala DLH Kabupaten Serang, Sarudin, mengatakan program percontohan tersebut akan dilaksanakan di Kompleks Cikande Permai dengan mengambil satu RW sebagai lokasi pilot project.
“Di bulan Oktober nanti kita mulai melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat. Kita coba titiknya di Kompleks Cikande Permai, satu RW sebagai pilot project pengolahan sampah di tingkat rumah tangga,” kata Sarudin, Senin (5/10/2026).
Dalam program tersebut, setiap rumah tangga akan diberikan dua ember yang digunakan untuk memisahkan sampah organik dan nonorganik.
Menurut Sarudin, pemilahan sejak dari rumah menjadi bagian dari konsep pengelolaan sampah jangka panjang. Jika percontohan tersebut berjalan baik, program serupa akan dikembangkan ke wilayah lainnya.
Baca Juga: Tambah Armada Pengangkut Sampah dan Insinerator, DPRD Kabupaten Serang Berikan Dukungan
“Jadi satu rumah tangga kita siapkan dua ember untuk sampah organik dan sampah nonorganik. Mudah-mudahan secara bertahap kalau percontohan ini berhasil, kita akan kembangkan di tempat-tempat yang lain,” ujarnya.
Selain di Cikande, DLH Kabupaten Serang juga telah mengembangkan pengolahan sampah organik menggunakan maggot di wilayah Anyer, tepatnya di sekitar belakang Pasar Anyer.
Sarudin menjelaskan, pengolahan menggunakan maggot dipilih karena sebagian sampah yang dihasilkan di kawasan tersebut merupakan sampah organik, seperti sisa makanan, kue, dan sayuran.
“Di Anyer ini juga kita mengembangkan pengolahan sampah dengan maggot, dekat Pasar Anyer. Karena sebagian besar sampah itu sampah organik, dari sisa-sisa makanan, sisa kue maupun sayuran,” tambahnya.
Ia menyebutkan, produksi sampah di Kecamatan Anyer dalam kondisi normal mencapai hampir 20 ton per hari. Jumlah tersebut tidak hanya berasal dari kawasan pariwisata, tetapi juga dari aktivitas rumah tangga dan permukiman warga.
“Kalau normalnya di Anyer itu hampir 20 ton-an. Itu tidak hanya kawasan pariwisata, termasuk sampah-sampah domestik di perumahan-perumahan di Kecamatan Anyer,” ungkapnya.
Baca Juga: Buang Sampah ke Pandeglang, Pemkab Serang Keluarkan Rp900 Juta Per Bulan
Sarudin mengatakan, pengolahan sampah di Anyer juga menjadi bagian dari konsep percontohan. Apabila berjalan baik, pola tersebut diharapkan dapat diterapkan di kecamatan lainnya.
“Konsep jangka panjangnya ini kan percontohan. Kalau memang ini dianggap berhasil, mungkin nanti akan kita kembangkan di wilayah kecamatan yang lain,” pungkasnya.
Ia menegaskan, pola pengelolaan sampah yang dikembangkan DLH tidak hanya mengandalkan sistem pengambilan dan pengangkutan sampah. Namun, sampah diupayakan dapat diselesaikan sejak dari tingkat hulu.
“Ini termasuk model pengolahan sampah tidak hanya ambil dan angkut, tapi bagaimana sampah selesai di tingkat hulu,” imbuhnya. (sidik)




















