SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Dua warga negara Indonesia (WNI) mengalami luka ringan di tengah rangkaian serangan kelompok Houthi Yaman di Arab Saudi. Sementara puing-puing dua rudal jelajah yang berhasil dicegat di Riyadh melukai empat orang warga Saudi dan menyebabkan 15 rumah mengalami kerusakan ringan.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh mengonfirmasi kedua WNI terluka pada 11 Oktober 2026, di tengah serangan Houthi yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
“Terdapat dua warga negara Indonesia yang mengalami luka ringan pada tanggal 11 Oktober 2026,” demikian keterangan KBRI Riyadh, Rabu (14/10).
Kedua WNI dirawat di Rumah Sakit Sulaiman Habib Al Shahafah dan Rumah Sakit Sulaiman Habib Al-Takhasusi. Keduanya diperbolehkan pulang pada hari yang sama.
KBRI sebelumnya telah mengirimkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Arab Saudi untuk meminta informasi mengenai kemungkinan adanya WNI yang menjadi korban. KBRI juga memeriksa Rumah Sakit Mouwasat dan Riyadh Hospital. Kedua rumah sakit itu memastikan tidak ada WNI lain yang menjadi korban.
KBRI meminta WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan, menghindari lokasi rawan, mematuhi arahan otoritas setempat, dan mengikuti informasi resmi pemerintah Saudi. WNI juga diimbau tidak memotret, merekam, atau menyebarkan informasi mengenai penangkisan maupun lokasi jatuhnya rudal dan drone karena pelanggaran terhadap pembatasan tersebut dapat dikenai sanksi sesuai hukum setempat.
Baca Juga: Arab Saudi Tutup Bandara Riyadh Akibat Serangan, Kemenhub Pantau Dampaknya
Aksi saling serang antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi terus berlanjut. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi menyatakan, puing-puing dua rudal jelajah yang dicegat pada Rabu (13/10) dini hari, jatuh di Riyadh dan melukai empat orang, terdiri atas dua perempuan, seorang pria, dan seorang anak. Sebanyak 15 rumah mengalami kerusakan ringan.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan pasukan koalisi juga mencegat dan menghancurkan sebuah rudal jelajah di Al-Kharj, wilayah tenggara Riyadh.
Di Dhahran, wilayah timur Arab Saudi, sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak Saudi Aramco dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Selasa malam. Insiden itu memicu kebakaran kecil tanpa menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Sebagai balasan atas serangan Houthi, koalisi pimpinan Saudi mengumumkan operasi militer terhadap fasilitas yang dinilai menopang kemampuan tempur kelompok tersebut di Yaman.
Al-Maliki, seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (14/10), mengatakan serangan diarahkan ke fasilitas penyimpanan dan pengangkutan bahan bakar yang digunakan Houthi untuk mendukung operasi militer, termasuk pengoperasian rudal dan drone. Sasaran serangan berada di Sanaa, Hodeidah, dan Dhamar.
Koalisi menyebut fasilitas yang diserang mencakup Stasiun Pusat al-Sabaha di Sanaa, tempat penyimpanan cadangan bahan bakar bawah tanah, tangki bahan bakar, serta sarana pengangkutan dan bongkar muat bahan bakar.
Baca Juga: Tak Ada WNI Tewas di Riyadh
Al-Maliki menuduh Houthi memanfaatkan fasilitas sipil dan infrastruktur vital untuk mendukung operasi militer. Sumber daya yang semestinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk Yaman, katanya, telah dialihkan untuk menopang kemampuan tempur kelompok itu.
Menurut dia, persenjataan rudal dan drone Houthi mengancam Arab Saudi dan Yaman, termasuk bandara sipil, pelabuhan, serta kapal-kapal komersial di Laut Merah. Ia juga menuduh kelompok tersebut merencanakan serangan lanjutan terhadap fasilitas sipil di Saudi dan kapal komersial.
Sebelumnya, juru bicara Houthi Yahya Saree menyatakan kelompoknya bertanggung jawab atas serangan ke Riyadh. Houthi juga mengklaim melancarkan serangan terhadap bandara di Dammam serta dua fasilitas kilang minyak Saudi Aramco. Kelompok itu memperingatkan Arab Saudi agar menanggapi ancaman mereka dengan serius.
“Kami mengingatkan semua orang untuk menerima peringatan kami secara serius, dan Arab Saudi bertanggung jawab atas kegagalan intersepsi,” demikian pernyataan Houthi yang dikutip Reuters.
Houthi juga menuding Arab Saudi melancarkan 124 serangan udara ke Yaman pada Ahad (11/10). Melalui stasiun televisi Al Masirah, Kementerian Luar Negeri Houthi mengancam akan meningkatkan serangan jika Saudi tidak menghentikan operasi militernya di Yaman. (rmg/xan)

















