SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengecam pembangunan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang dinilai memperburuk situasi Palestina. Keduanya menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina berdasarkan batas wilayah Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
“Kami mengecam keras pembangunan permukiman ilegal Israel, serta tindakan-tindakan yang justru semakin memperburuk keadaan,” kata Prabowo dalam pernyataan bersama El-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Prabowo menyampaikan keprihatinan atas kekerasan, operasi militer Israel, pelanggaran hukum internasional, dan tindakan provokatif yang mengancam warga sipil Palestina. Ia menyoroti penggunaan kekuatan berlebihan yang menimbulkan korban, termasuk orang lanjut usia, perempuan, dan anak-anak.
“Dan tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak asasi manusia, penggunaan kekerasan yang di luar kepatutan, yang mengakibatkan korban manusia-manusia yang tidak bersalah, masyarakat sipil tidak bersenjata, para non-combatants, orang tua, wanita, anak-anak kecil, yang terus menjadi korban tindakan-tindakan di luar batas kemanusiaan,” ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, solusi dua negara merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik Palestina.
“Indonesia apalagi, tetap berpandangan bahwa terwujudnya negara Palestina berdasarkan solusi dua negara adalah satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut,” tegasnya.
Baca Juga: Dua Mantan Kapolda Banten Berturut-turut Jadi Kapolri, Andra Soni Turut Bangga
Indonesia dan Mesir juga sepakat memperkuat koordinasi di berbagai forum internasional untuk mendorong proses perdamaian dan penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk pemulihan serta rekonstruksi Gaza.
“Indonesia dan Mesir sepakat melanjutkan kontribusi untuk mendorong proses perdamaian dan segera memberikan bantuan kemanusiaan bagi Palestina, termasuk pemulihan dan rekonstruksi Gaza,” kata Prabowo.
El-Sisi mengatakan situasi Palestina turut memengaruhi stabilitas kawasan. Karena itu, ia menekankan perlunya penyelesaian menyeluruh yang menjamin kemerdekaan Palestina.
“Kita juga sudah sepakat untuk penyelesaian yang menyeluruh untuk masalah Palestina, untuk diwujudkannya negara Palestina yang merdeka, batas pada Juni 1967, dan ibu kotanya adalah Yerusalem Timur. Itulah jalan satu-satunya untuk mewujudkan perdamaian yang komprehensif,” kata El-Sisi.
Di luar persoalan Palestina, kedua presiden menyerukan deeskalasi konflik di Timur Tengah. Prabowo mengatakan mereka menganjurkan pengendalian diri serta penghormatan terhadap kedaulatan dan hukum internasional.
“Mengenai situasi di kawasan Timur Tengah, kami juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik, kami terus menganjurkan deeskalasi, pengendalian diri, penghormatan terhadap kedaulatan, hukum internasional,” kata Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Harap Timnas Tampil di Piala Dunia 2030
Kedua pemimpin juga mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan diplomasi sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Prabowo memperingatkan bahwa eskalasi dapat membahayakan warga sipil sekaligus mengganggu perekonomian global.
“Pandangan kami adalah setiap eskalasi akan memberikan dampak yang sangat merugikan kondisi keselamatan warga sipil serta stabilitas dunia terutama perekonomian global,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan itu turut meningkat akibat pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, terutama di sekitar Selat Bab Al-Mandab, jalur pelayaran strategis.
Selain membahas konflik kawasan, Indonesia dan Mesir sepakat memperkuat kemitraan strategis di bidang pertahanan, ekonomi, kelautan dan perikanan, serta pendidikan.
Di bidang pertahanan, kerja sama mencakup pengembangan industri pertahanan, pendidikan dan pelatihan, serta pertukaran kunjungan pimpinan dan pakar. Prabowo juga mengapresiasi dukungan Mesir yang menyediakan fasilitas bagi kapal-kapal TNI Angkatan Laut dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB di Timur Tengah.
Di bidang ekonomi, kedua negara mendorong pembentukan Perjanjian Kemitraan Ekonomi (Economic Partnership Agreement/EPA) untuk memperluas akses pasar dan investasi, serta Dana Investasi Bersama (Joint Investment Fund) bagi proyek-proyek strategis.
Kerja sama kelautan dan perikanan meliputi pembangunan berkelanjutan, konservasi laut, pemberantasan penangkapan ikan ilegal, dan pertukaran keahlian.
Di bidang pendidikan, kedua negara akan memperluas pertukaran mahasiswa, kemitraan antaruniversitas, dan riset bersama. Mesir juga menawarkan tambahan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia, terutama di bidang kedokteran, teknik, dan sains.
Prabowo menyebut kesepakatan tersebut sebagai komitmen untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Mesir dan memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara. (rmg/xan)





















