SATELITNEWS.COM, SERANG – Potensi ketahanan pangan di Provinsi Banten, disampaikan dihadapan ribuan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tindakan itu dilakukan, sebagai percontohan bagi akademisi, mengenai menjaga dan memanfaatkan potensi pangan yang ada.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Banten, komoditas ketahanan pangan hingga akhir September di Banten mengalami surplus. Seperti komoditas Beras terdedia 340.965 ton, sedangkan kebutuhan hanya sekira 108.275 ton atau surplus 232.691 ton.
Jagung tersedia 177.361 ton sedangkan kebutuhan 114.375 ton atau surplus 62.985 ton. Kedelai tersedia 12.934 ton sedangkan kebutuhan 8.818 ton atau surplus 4.116 ton. Bawang Merah tersedia 7.875 ton sedangkan kebutuhan 3.499 ton atau surplus 4.376 ton. Bawang Putih tersedia 4.215 ton sementara kebutuhan 2.139 ton atau surplus 2.076 ton.
Kemudian, Cabai Besar tersedia 7.419 ton sementara kebutuhan 4.423 atau surplus 2.996 ton. Cabai Rawit tersedia 4.928 ton, sementara kebutuhan 3.159 ton atau surplus 1.768 ton. Daging Sapi atau Kerbau tersedia 9.862 ton sementara kebutuhan 3.499 ton atau surplus 6.363 ton. Daging Ayam Ras tersedia 39.254 ton, sementara kebutuhan 17.410 ton atau surplus 21.844 ton.
Selanjutnya, telur ayam ras tersedia 48.280 ton sementara kebutuhan 21.512 ton atau surplus 26.768 ton. Gula pasir tersedia 45.281 ton, sementara kebutuhan 8.727 ton atau surplus 36.554 ton. Terakhir, minya goreng tersedia 61.035 ton, sementara kebutuhan 24.849 ton atau surplus 38.186 ton.
Kepala Dinas Ketapang Provinsi Banten, Nasir M Daud mengatakan, strategi membangun sistem pangan yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Mahasiswa UIN Jakarta Demo, Desak Dugaan Korupsi Diusut
Poin tersebut menyoroti potensi produksi pangan daerah, penguatan distribusi, stabilisasi pasokan dan harga, pengawasan pangan, serta pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat kemandirian pangan.
Kata Nasir, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup keterjangkauan harga, daya beli masyarakat,
kelancaran distribusi, serta pemanfaatan pangan yang aman dan bergizi. Karena itu, pemerintah memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem pangan dari hulu hingga hilir.
“Ketahanan pangan harus dibangun melalui sistem yang terintegrasi. Pemerintah tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga memastikan distribusi berjalan lancar, pasokan dan harga terkendali, serta masyarakat memiliki akses terhadap pangan yang aman, bergizi, dan terjangkau,” katanya, Minggu (25/10/2026).
Nasir mengatakan, optimalisasi potensi pangan lokal Provinsi Banten memerlukan sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Peran pemerintah mencakup penguatan produksi, pemantauan harga, kelancaran distribusi, stabilisasi pasokan, hingga pengawasan peredaran pangan agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
“Selain penguatan sistem pangan secara menyeluruh, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten juga mendorong penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal melalui pemanfaatan lahan pekarangan, termasuk di lingkungan pondok pesantren dan kelompok masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: JPO Viral Dekat UIN Syarif Hidayatullah Direlokasi Tahun Ini
Nasir menjelaskan, melalui program pemanfaatan lahan pekarangan berbasis sumber daya lokal, lahan pekarangan, lahan tidur, dan lahan kosong yang belum produktif didorong menjadi sumber pangan yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Upaya ini diarahkan untuk menambah ketersediaan pangan keluarga, mendukung konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA), serta meningkatkan kemandirian pangan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi.
“Pekarangan bukan sekadar ruang kosong, tetapi memiliki potensi untuk menjadi sumber pangan apabila dikelola dengan baik. Kita ingin masyarakat semakin mampu memanfaatkan sumber daya di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi,” paparnya.
Menurut Nasir, penguatan ketahanan pangan keluarga juga dilakukan melalui pengembangan budidaya ayam petelur. Upaya ini ditujukan untuk mendukung ketersediaan telur sebagai sumber protein hewani, memperkuat pemenuhan gizi keluarga, serta membuka peluang usaha produktif bagi masyarakat.
Pengembangan budidaya tersebut didukung dengan sarana pemeliharaan, meliputi ayam petelur siap produksi, kandang, pakan, serta kebutuhan kesehatan ternak.
Dengan pengelolaan yang baik, budidaya ayam petelur diharapkan dapat mendukung ketersediaan telur secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha pangan.
“Ketahanan pangan perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga. Pemanfaatan pekarangan dan budidaya ayam petelur merupakan contoh upaya yang dapat mendekatkan sumber pangan kepada masyarakat. Dengan begitu, ketahanan pangan tidak hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama,” jelasnya.
Nasir mengajak mahasiswa, untuk mengambil peran aktif dalam menjawab tantangan ketahanan pangan. Menurutnya, mahasiswa, khususnya dari bidang agribisnis, memiliki peluang besar untuk menghadirkan inovasi, melalui penelitian, pemanfaatan teknologi, pengembangan kewirausahaan, dan pendampingan masyarakat.
“Saya mengajak mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari persoalan pangan secara akademis, tetapi juga menghadirkan gagasan dan inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat. Potensi pangan lokal perlu dikembangkan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Nasir meyakini, perguruan tinggi merupakan mitra strategis pemerintah dalam mengembangkan solusi berbasis penelitian dan inovasi. Sinergi antara pemerintah dan kalangan akademisi diharapkan mampu melahirkan pendekatan baru dalam pengembangan agribisnis, peningkatan nilai tambah produk pangan lokal, serta penguatan kemandirian pangan masyarakat.
Melalui forum akademik ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami tantangan ketahanan pangan sekaligus terdorong untuk berkontribusi dalam pengembangan potensi pangan lokal.
Keterlibatan generasi muda menjadi penting untuk menghadirkan inovasi dan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta dinamika pembangunan daerah.
“Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten terus mendorong penguatan sistem pangan melalui optimalisasi potensi lokal, stabilisasi pasokan dan harga, pengawasan pangan, serta pemberdayaan masyarakat dalam membangun kemandirian pangan keluarga,” tuturnya.
“Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah memperkuat ketahanan pangan Provinsi Banten yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan,” tutupnya.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, La Ode Sumarlin berharap, melalui kegiatan tersebut mahasiswa bisa lebih terbuka dalam memaknai ketahanan pangan beserta pemanfaatan semua potensi yang ada.
“Tentu ilmu yang didapat ini harus bisa dimanfaatkan dan bermanfaat bagi mahasiswa kedepannya. Semoga melalui kegiatan ini, setiap kita bisa melihat lebih jauh mengenai pemanfaatan semua potensi sumber pangan yang ada,” imbuhnya. (adib)

















