SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Hubungan seks bebas menjadi sebab utama penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) / Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Demikian dingkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Indri Bevy.
Dia mengatakan seks bebas tanpa menggunakan alat pengaman atau kondom sangat berpotensi terinfeksi Aids. Apalagi ganti-ganti pasangan. Apalagi yang berhubungan seks dengan sesama jenis. “Iya sesama jenis, jadi hubungan seks tidak aman baik itu sesama jenis dan tukar-tukaran pasangan. Karena faktor resikonya MSM (man sex man),” ujarnya kepada Satelit News, Selasa, (01/11).
Menurut Data Dinkes di Kota Tangerang, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) naik turun selama 5 tahun terakhir. Pada 2020 per September terdapat 154 orang, kemudian pada 2019 ada 232. Lalu 157 orang pada 2018, 2017 ada 124. Serta tahun 2016 ada 105 orang.
Namun, demikian dari jumlah tersebut kata Bevy tidak ada kasus bayi yang terinfeksi AIDS dari ibunya yang positif. Lantaran saat masa kehamilan sang ibu mendapat instruksi dari dokter untuk selalu memeriksa dan mengonsumsi obat untuk mencegah anaknya terinfeksi AIDS.
“Yang dari ibu ke anak belum ada, kan kita ada kegiatan triple eliminasi pada ibu hamil, jadi kita melakukan pemeriksaan kepada ibu hamil itu langsung kita kasih obat. biasanya kalau ibu hamil dikasih obat tidak akan menularkan kepada bayi yang dikandungnya. itu namanya triple elimination,” ungkap Bevy.
Kemudian bagi ODHA diharapkan terus mengonsumsi obat rejimen Anti-Retroviral (ARV). Obat tersebut berfungsi untuk menambah daya tahan tubuh sehingga masa hidup penderita Aids dapat lebih panjang.
Baca Juga: Abu Gunung Anak Krakatau, Warga Kota Tangerang Diminta Waspada
“Diharapkan mereka meminum obat ARV seumur hidup dan selalu kontrol, mereka harus berperilaku yang baik tidak pakai narkoba lagi dan tak seks bebas lagi,” kata Bevy.
Bertepatan dengan Hari AIDS sedunia yang jatuh pada kemarin Bevy berharap mereka tetap semangat dan tidak kembali pada lubang yang sama. Kemudian, bagi masyarakat diharapkan jangan berstigma negatif. “Jangan distigma macem-macem mereka adalah saudara-saudara kita juga dan terakhir jangan berperilaku yang beresiko. Rangkul dan beri semangat buat mereka,” jelasnya.
Sementara, Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Provinsi Banten menyoroti minimnya fasilitas kesehatan yang berpihak kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Seperti ketiadaan fasilitas persalinan serta penggunaan bahasa kesehatan bagi para pasien sehingga bisa mencegah stigma negatif masyarakat. “Harusnya ada bahasa yang halus atau kode seperti b dua puluh,” ujar Ketua IPPI Banten, Rohma.
Ia juga mengungkapkan bahwa fasilitas kesehatan bagi ODHA di Kota Tangerang sangat minim. Kebanyakan tersedia di RSU Kabupaten Tangerang yang dinilai lebih baik ketimbang kota atau kabupaten lainnya di Banten. “Masih ketinggalan jauh Kota Tangerang,”imbuhnya.
Rohma juga mengungkapkan untuk di Banten data yang dipegangnya untuk ODHA tercatat banyak dari kaum hawa. Meski tidak menyebutkan secara rinci jumlahnya, perempuan mendominasi karena rentan tertular dari pasangan.
Menurut Rohma, saat ini peran pemerintah dalam memperhatikan ODHA juga dinilai sangat minim. Ia memberikan contoh untuk tenaga pendamping yang memberikan informasi serta penanganan bagi pasien baru tidak dibiayai dari pemerintah namun dari dana asing. “Pernah ada bantuan dari APBD untuk program pendampingan namun biaya operasional baru bisa di cairkan tiga bulan sekali, itu justru memberatkan kita,” pungkasnya. (irfan/made)
Baca Juga: Anggaran Rp1,1 Miliar untuk Videotron Dinkes Kota Tangerang Dibatalkan
























