SATELITNEWS.ID, RANGKASBITUNG–Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Klas III Rangkasbitung dibekali pelatihan tanaman sayuran berupa cabai. Kegiatan bekerjasama dengan Dinas Pertanian tersebut, selain menjadi sentra pertanian juga diharapkan menjadi bekal warga setempat keluar dari masa tahanan.
Pelatihan kepada 20 orang WBP yang berlangsung, di Aula Pembinaan Lapas Rangkasbitung, menindaklanjuti ditetapkan sebagai lapas produktif sentra pertanian sayur mayur dan peternakan. Rencananya kegiatan ini akan digelar selama beberapa hari ke depan dengan metode teori dan praktik. Peserta yang mengikuti akan mengikuti uji kompetensi dan akan mendapat sertifikat keahlian bagi yang lulu dalam pelatihan ini.
Kalapas Rangkasbitung, Budi Ruswanto mengatakan, pelatihan sayuran bertujuan untuk membantu WBP dalam mengembangkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat, maka penting dengan memberi bekal keterampilan.
“Saya berharap warga binaan setelah keluar dari lapas tidak lagi melakukan tindak pidana dan menjadi manusia yang unggul, mandiri, berperan aktif dan kreatif dalam membangun bangsa dan negara dengan bekal sertifikasi pelatihan hari ini. Tentu kami berharap kegiatan ini nantinya akan menunjang produktifiatas pada Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), serta dapat berkontribusi terhadap capaian PNBP tahun 2021,” kata Budi, kemarin.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar mengatakan, pelatihan ini difokuskan di Bidang Olerikultura (sayuran) dengan melakukan pelatihan penanaman salah satunya penanaman cabai.
“Dengan teori dan praktik, semoga para warga binaan lapas Rangkasbitung ini mendapat bekal dan menjadi Warga Negara Indonesia yang baik dan berguna, dan kami yakin lapas bisa melampaui target capaian dan PNBP yang telah ditetapkan,” imbuhnya.
Kasubsi Pembinaan Lapas Klas III Rangkasbitung, Eka Yogaswara mengatakan, sistem pemasyarakatan merupakan sebuah tatanan tentang arah, batas, dan cara pembinaan WBP, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas WBP itu sendiri. Sehingga, WBP dapat berintegrasi secara sehat dalam kehidupan di masyarakat.
“Diharapkan kegiatan ini, bukan hanya sekadar sebagai pengisi waktu luang selama menjalani masa pidana saja, namun juga harus berorientasi pada pembangunan SDM. Semoga hasil produk menghasilkan berkualitas, berdaya saing serta berkesinambungan,” pungkasnya.(mulyana/made)