SATELITNWS.ID, SERANG–Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang menyebut, luas areal tanam kacang kedelai lokal hingga saat ini masih sangat kecil. Hal itu dikarenakan, banyak para petani yang enggan menanam kedelai, lantaran harga jualnya cukup murah.
Kepala Distan Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya lahan pertanian kacang kedelai yang masih produktif saat ini kurang dari 30 hektar. Itu tersebar di Kecamatan Pamarayan, Tunjung Teja dan Mancak.
“Jadi kecil sekali, satu hektar itu sekitar 8 kwintal (produksinya). Karena itu tadi minat petani, kita program ada untuk bantuan full paketnya, tapi yang nanam gak mau karena terbentur masalah harga,” kata Zaldi, saat ditemui di kantornya, Rabu (13/1).
Katanya, selama ini pihaknya sudah melakukan berbagai upaya agar para petani bisa berkembang, diantaranya dengan memberikan bantuan mesin pembuat tahu. Sehingga para petani, tidak harus berpikir menjual biji kering, tetapi dapat diolah sendiri menjadi tahu.
“Cuma karena anggaran kita terbatas, dan untuk Covid kemarin dipotong lagi, akhirnya kita cuma bisa ngasih dari seluruh areal itu hanya 5 unit. Tapi memang yang kita kasih alat ini, karena mereka nanamnya terbatas. Akirnya mereka juga ngambil kedelai dari Cilegon,” tuturnya.
Namun demikian, Zaldi mengaku, akan mencoba mendorong para petani agar menanam kacang kedelai sampai 1000 hektar. Hal ini sesuai dengan amanat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. “Kita juga sedang upayakan ketika panen (kacang kedelai), pokoknya petani sudah ada yang menampung, seperti padi begitu panen tengkulak sudah siap membeli,” tuturnya.
Baca Juga: Keuangan Belum Sehat, Pembangunan Puspemkab Serang Tidak Jadi Prioritas
Zaldi mengungkapkan, untuk harga jual kacang kedelai lokal berada di kisaran Rp5000 per kilogram. Namun jika impor masuk secara besar besaran, harganya bisa jatuh diangka Rp2.500. “Kacang kedelai lokal itu, dari sisi ukuran lebih kecil dari impor, tapi lebih aman dikonsumi,” imbuhnya. (sidik/mardiana)
