SATELITNEWS.ID, RANGKASBITUNG—Shelter tsunami tempat yang akan dijadikan mitigasi bencana di Kampung Binuangeun, Desa Muara, Kecamatan Wanasalam kini kondisinya rusak. Shelter yang dibangun pada tahun 2014 lalu ini mengalami kerusakan pada beberapa bagian bangunannya, bahkan perlu dilakukan perbaikan segera.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bemcana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama mengatakan, saat ini ada beberapa bagian yang rusak dan harus segera diperbaiki. Namun, ia mengaku belum bisa melakukan perbaikan lantaran masih masa pandemi Covid-19. “Sarana dan prasarananya rusak dan mendesak diperbaiki di dalamnya,” ujarnya kemarin.
Febby menjelaskan, bangunan shelter mengalami kerusakan pada bagian WC, elektrikal, dan ruangan serbaguna. Menurutnya, kerusakan itu sudah berlangsung lama, bahkan sebelum aset shelter diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak.
“Untuk saat ini pengelolaan masih di Pemkab, karena pandemi perbaikannya tertunda. Tahun 2022 semoga bisa diperbaiki untuk jadi hub (tempat) Kantor BPBD di selatan Lebak,” katanya.
Lebih lanjut Febby mengungkapkan, bangunan shelter memiliki manfaat jika terjadi bencana tsunami sebagai tempat evakuasi sementara bagi warga yang terdampak.
“Jika tidak ada tsunami bisa sebagai ruang sosial masyarakat dan alat edukasi bencana tsunami,” katanya.
Baca Juga: El Nino Mengancam, Polres Lebak Siapkan Sumur Bor
Menanggapi hal itu, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lebak, Dian Wahyudi mengaku prihatin. Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, shelter merupakan tempat dimana harus menjadi tempat nyaman bagi korban nantinya. “Harus segera diperbaiki, jangan sampai gedung tersebut rusak,” kata singkatnya.(mulyana/made)
























