SATELITNEWS.ID, TANGSEL–Selain Ahmad Juaidi, terduga teroris lainnya juga menyampaikan pengakuan yang sama. Bahkan yang lebih mengejutkan, mereka merencanakan untuk meledakkan industry China dan SPBU.
Seperti diakui, Zulaimi Agus. Pria yang ditangkap di Serang Baru, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, pada Senin 29 Maret 2021 itu mengaku belajar membuat bom setelah kerusuhan di depan Bawaslu pada 21 Mei 2019. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah bahan peledak di rumah kontrakan Zulaimi oleh tim Densus 88 Anti terror.
“Saya belajar membuat TATP atau acetone peroxide sejak pasca-kerusuhan Mei 212 di depan Bawaslu. Sudah mencoba lima kali membuat di bengkel Sinergi Motor Serang Baru, Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Saya belajar membuat bahan tersebut dari blog internet dengan cara mengaktifkan VPN,” kata Agus.
Dia mengaku termotivasi membuat bahan peledak karena mau menegakkan keadilan dengan cara sendiri terhadap tindakan Brimob kepada demonstran 212. Dia sendiri mengaku bergabung dengan FPI tahun 2019 wilayah DPC Serang Baru, Kabupaten Bekasi, sebagai Wakadit Jihad. Dia bergabung dengan Majelis Ratib Yasin Waratib diajak oleh Bambang alias Abi dikenalkan Habib Husein. Dia mengajarkan cara membuat TATP tersebut kepada Habib Husein, Malik, Noval, Bang Heri, Bang Jun di rumah Habib Husein di garasi.
Agus kemudian mengajarkan tahapan membuat bahan peledak di hadapan teman-temannya. Namun, dari sekian yang hadir, hanya Habib Husein yang kemudian menanyakan lebih lanjut soal bahan peledak tersebut.
Sementara Bambang Setiono punya rencana lebih mengejutkan. Dia mengaku merencanakan penyerangan di SPBU. Teroris Bambang Setiono mengaku menjadi simpatisan FPI sejak Desember 2020. Dia ditangkap di sebuah mal di Pademangan, Jakarta Utara, pada Senin (29/3/2021).
Baca Juga: Densus 88 Tangkap Dua Tersangka Teroris di Jakarta Barat
“Saya Bambang Setiono menjadi simpatisan FPI sejak awal Desember 2020. (Keterlibatan saya) membuat bahan dari black powder dari Zulaimi Agus di Sukabumi. Merencanakan aksi penyerangan kepada SPBU dengan bom molotov untuk menuntut bebas HRS,” kata Bambang.
Bambang juga mengetahui pembuatan bahan peledak Zulaimi Agus atas perintah Habib Husein Hasni di Condet, Jaktim. Dia ikut merencanakan aksi pelemparan bom kepada orang Tionghoa.
“Merencanakan aksi penyerangan dengan ketapel dan peluru gotri jika terjadi kerusuhan saat demo. Merencanakan pemberian serbuk HClO3 kepada setiap DPC dan DPW wilayah Bandung melalui Habib Nabil dan wilayah Brebes melalui Habib Hasan,” tuturnya.
Bambang juga mengaku mengetahui rencana penyerangan Habib Husein Hasni kepada anggota kepolisian. Dia mengaku sudah melakukan pertemuan sebanyak tiga kali di Cibadak, Sukabumi, tempat Ahmad Dimiati alias Abah Popon bersama Habib Husein Hasni, Zulaimi Agus, Jati, Jeri Junaedi, Ipul, Noval, Malik, Habib Al Jufri, Asep Komara, Angga Putra, untuk mengisi ilmu kebal dan kebatinan.
“Mengetahui penunjukan sebagai tim eksekutor untuk penyerangan menggunakan bom lempar kepada anggota kepolisian, bersama Jeri, Ahmad Junaedi, Malik, Jati, Noval, Ipul, laskar FPI,” sambungnya.
Pelaku lainnya, Wiloso Jati mengaku sebagai laskar FPI DPC Jagakarsa pada 2019. Wiloso Jati bergabung dengan Habib Husein Hasni pasca-penangkapan Habib Rizieq Shihab dan pembubaran FPI. “Saya pernah ditawari sebagai eksekutor untuk melemparkan bom molotov oleh Bambang Setiono. Kemudian juga pernah sedikit belajar untuk cara pembuatan bom dari Zulaimi Agus. Habib juga pernah memerintahkan kepada anggota mengisi ilmu kebal di Sukabumi di tempat Haji Popon sebagai pembekalan untuk persiapan aksi,” katanya. (net/jarkasih)
Baca Juga: Teroris Targetkan Bom Dua Tempat Ibadah
