SATELITNEWS.ID, LEBAK—Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya tengah dilema terkait nasib pendidikan di Bumi Multatuli. Keinginan untuk menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka terkendala status oranya penyebaran Covid-19.
Padahal di satu sisi banyak siswa di Lebak yang putus sekolah dan ribuan dinyatakan tidak ada kejelasan. Kondisi tersebut membuat Iti harus kembali bersabar untuk menerapkan KBM tatap muka. Pasalnya, jika dipaksakan akan muncul klaster baru dan membahayakan banyak masyarakat.
“Sebenarnya dilematis buat saya, dengan pembelajaran tidak tatap muka angka putus sekolah tinggi, daring juga gurunya harus nyamperin ke anak-anaknya karena terkendala blank spot,”kata Iti, Rabu (23/06/2021).
Sejak dilaksanakan belajar secara daring atau online, rupanya tidak memberikan efek yang positif melainkan kurang efektif. Sebab, berdasarkan data Dinas Pendidikan banyak siswi siswi yang putus sekolah bahkan ribuan dinyatakan tidak aktif. “Banyak anak-anak kita ke luar daerah untuk bekerja bahkan sampai ada yang menikah,”tambahnya.
Menurut Iti, sebenarnya pembelajaran tatap muka ini menjadi poin penting untuk Kabupaten Lebak. Sebab, akibat belajar daring atau online banyak siswa yang putus sekolah. “Kalau bicara mendesak tatap muka ini menjadi satu poin penting untuk Kabupaten Lebak,”tuturnya. “Tapi satu sisi lagi kita masuk zona oranye jadi harus mengikuti instruksi pemerintah untuk menunda dulu sekolah tatap muka,”sambungnya.
Meski demikian, Iti mengaku akan melakukan evaluasi secara rutin untuk membahas tentang penerapan pembelajaran tatap muka. “Kita evaluasi setiap minggu. Akhir bulan ini juga kita evaluasi,”tandasnya. Diberitakan sebelumnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, mencatat terdapat 3.869 siswa yang tidak jelas keberadaannya, sementara yang putus sekolah terdapat 415 siswa dari berbagai sekolah di Lebak.
Baca Juga: Agar Partai Demokrat Menjadi Pemenang, Iti: Jaga Komitmen dan Saling Menguatkan
“Ibu Bupati (Iti Octavia Jayabaya) memerintahkan untuk mencari tahu alasan serta kemana saja aktivitas mereka (siswa). Siswa yang tidak aktif, kita upayakan masih tetap sekolah, itu nanti yang menilai sekolah masing-masing, seberapa banyak dia tidak mengikuti, misal bisa menyusul. Kami memberikan kesempatan untuk menyelesaikan tugas sekolah. Itu upaya kami,” pungkasnya.(mulyana/made)
























