SATELITNEWS.ID,CILEDUG—Berawal dari hobi suami dan anak-anaknya siapa sangka Khilyatu Hasanah sukses berbisnis bawang goreng. Bahkan, tak tanggung-tanggung, produknya itu kini tembus hingga ke Negeri Ginseng, Korea Selatan.
Produk yang diberi nama Bawang Khil itu dirintis Khilyatu pada Januari 2018 lalu di Kompleks Paninggilan Permai, Jalan Pisang, Kelurahan Parung Serab Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Kepada SATELITNEWS.ID, dirinya mengaku justru tak suka bawang goreng, tetapi anak dan suaminya-lah jadi penggemar berat panganan garing renyah tersebut.
“Suami hobi makan bawang, sama anak-anak juga, saya sendiri sebenarnya enggak suka bawang. Akhirnya makanan yang keluarga suka saya jadikan bisnis. Selain jual bawang goreng, lebaran kemarin juga kita buat kacang bawang sama kacang mede,” ujarnya.
Sebelum menghasilkan bawang goreng yang renyah seperti sekarang ini, awalnya bawang gorengnya memiliki kadar minyak lumayan tinggi dalam kemasan. Pertengahan 2019, ia pun ikut bergabung masuk UMKM Kecamatan Ciledug. Dari situ, ia ditantang oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang agar mengubah produknya menjadi tidak berminyak dalam kemasan. Kemudian terpikir olehnya menggunakan mesin spinner untuk membuat bawang gorengnya tidak berminyak.
Untuk bahan baku pembuatan bawang goreng, ia mengambil berasal dari Jepara, namun ternyata ia menemui kesulitan. Akhirnya kini ia mengambil bawang yang berasal dari Brebes dan Demak. Menggunakan bawang yang berasal dari Brebes dan Demak karena rasanya lebih manis.
Dalam membuat bawang goreng sekitar 1 Kg membutuhkan 50 gram tepung beras kemudian ditambahkan garam. Varian rasa yang tersedia saat ini hanya bawang merah dan bawang putih original. Dahulu pada saat bawang goreng penjualannya mengalami peningkatan Khilyatu memiliki enam karyawan, namun sekarang hanya mempunyai tiga orang.
Baca Juga: Gubernur Andra Soni Sebut UMKM Jadi Penggerak Perekonomian Masyarakat
Per bulan omzet yang didapat dari bawang goreng Bunda Khil bisa mencapai Rp 30 juta/bulan dengan penjualan yang dilakukan saat ini lebih pada e-commerce dan sosial media. Ia mengatakan bisa sampai ke Korea karena sering mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan baik perusahaan swasta ataupun pemerintah setempat.
Sehari untuk membuat bawang goreng membutuhkan 20 Kg bawang merah dan 10 Kg bawang putih. Pembuatannya pun hanya dilakukan mulai dari hari Senin sampai Jumat, sementara untuk Sabtu-Minggu khusus pengemasan produk. Harganya pun bervariasi mulai dari yang berisi 25 gram seharga 10 ribu sampai ukuran 1 Kg dihargai 180 ribu.
Ada pun proses pembuatannya, dikupas terlebih dahulu kemudian dicuci, lalu dipotong, setelah itu diberikan tepung berang dan langsung digoreng. “Kita lakukan seperti itu karena mengambil getahnya tadi biar wangi,” tuturnya.
Ia juga mengharapkan agar usahanya bisa berkembang sehingga memberikan pekerjaan untuk para lansia di lingkungan sekitar rumahnya. Ia juga ingin membangun jaringan reseller, menambah penjualan secara luring (offline) dengan warung yang bertanda SRC (dari Kemenparekraf). Kemudian meningkatkan penjualan daring dengan menambah toko. Serta tetep bekerja sama dengan BUMN, Angkasa Pura, BRI, dan Mandiri. “Terakhir memperbaiki mutu dan kualitas dengan belajar dan belajar lagi supaya target kita tercapai,” ungkapnya. (mg03/made)
























