Sudah bertahun-tahun warga di Desa Carenang Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang dan Desa Gunung Kaler Kecamatan Gunung Kaler Kabupaten Tangerang tak merasakan jembatan. Untuk berlalu-lalang, mereka harus menggunakan perahu eretan melintasi Sungai Cidurian yang menjadi pembatas kedua wilayah itu atau melalui jembatan yang lokasinya sangat jauh. Namun, kini warga dapat tersenyum dengan pembangunan jembatan gantung yang akan segera rampung.
IRFAN MAULANA, Gunung Kaler
Jembatan menjadi akses vital masyarakat yang seharusnya difasilitasi oleh Pemerintah. Melalui jembatan sebagai penghubung, masyarakat yang dibatasi dengan jurang atau sungai dapat melakukan aktivitas kehidupannya. Mulai dari aktivitas sosial hingga perputaran ekonomi.
Kendati demikian, hal tersebut sudah bertahun-tahun tak dinikmati oleh masyarakat pelosok di perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang tersebut. Biasanya, mereka mengandalkan perahu eretan untuk berlalu-lalang melintasi Sungai Cidurian yang menjadi pembatas kedua wilayah itu.
Melalui perahu itu, warga dapat membawa berbagai barang. Mulai dari hasil tani hingga motor. Pemilik perahu eretan pun tak mematok harga untuk sekali menyebrang sungai.
“Bayar seikhlasnya sih,” ujar salah satu warga Desa Carenang, Risan kepada Satelit News, Minggu (25/07/2021).
Risan saat itu hendak menyeberang sungai membawa bibit padi yang ia peroleh dari Desa Gunung Kaler. Padi tersebut akan dia tanam di lahan sawahnya di Desa Carenang. Sekarung bibit padi itu dia bawa menggunakan sepeda motor.
Sebenarnya kata Risan terdapat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah itu. Namun, lokasinya lumayan jauh sekira 3 kilometer dari jembatan gantung. Jembatan itu terbuat dari kayu hasil gotong royong warga setempat.
“Baru setahunan itu dulu sama warga dibuat pas lurah yang dulu,” kata Risan.
Jembatan tersebut memiliki panjang sekira 20 meter dengan lebar dua meter setengah. Lebar itu pas untuk dilewati oleh mobil. Kendati begitu, hanya sepeda motor yang dapat melintas. Khawatir, bila mobil yang melintas tidak akan dapat menopang bebannya.
Masyarakat pun turut waspada bila melintasi jembatan itu. Pasalnya sebagai kayu yang digunakan sebagai alas sudah mulai copot. Selain itu, terdapat pula jembatan beton. Namun lokasinya lebih jauh lagi. Sekitar 7 kilometer dari jembatan gantung.
“Kalo pakai eretan warga di sini lebih cepat aktivitasnya. Karena kan bukan petani saja. Tapi juga warga yang kerja di pabrik-pabrik,” tutur Risan.
Menggunakan perahu eretan pun menjadi dilema pula bagi warga dua wilayah itu. Mereka pun was-was dengan deras air sungai Cidurian. Terlebih di musim hujan. Mau tak mau, mereka harus menggunakan jembatan yang lokasinya lebih jauh itu.
“Kalau yang sudah biasa mah biasa saja. Tapi memang kalau arusnya deras nggak bisa dipakai,” kata Risan.
Mereka juga tidak bisa 24 jam menggunakan jasa itu. Perahu eretan hanya beroperasi dari pagi hingga sore. Sehingga, bila ada keperluan pada malam hari maka warga terpaksa menggunakan akses yang lebih jauh. Belum lagi kondisi penerangan jalan yang minim. Membuat mereka harap-harap cemas.
Kini warga dua wilayah itu dapat tersenyum. Pasalnya, VRI beserta relawan yang tergabung segere merealisasikan jembatan gantung untuk menghubungkan aktivitas dua warga di dua wilayah tersebut.
“Terima kasihlah untuk jembatan ini untuk penyeberangan. Kalo malam tadinya harus muter sekarang kalau sudah ada jembatan, Alhamdulilah. Bisa gerak cepat,” kata Risan.
Relawan dari Vertical Rescue Indonesia (VRI) bekerja sama dengan Kodam III Siliwangi kini sedang membangun jembatan untuk warga di dua wilayah itu. Nampak pembangunan jembatan gantung sepanjang 100 meter yang sudah dilakukan sejak tiga pekan lalu itu akan segera rampung.
“Jembatan ini program lanjutan kerja sama dengan Kodam III Siliwangi, yang dinamai Jembatan siliwangi. sekarang sudah jembatan Siliwangi 6,” kata salah satu relawan Vertical Rescue Indonesia, Dadan Ridwan Hamdani.
Pria asal Bandung ini menjelaskan awalnya VRI mendapat informasi soal desa pelosok yang minim akses. Terutama jembatan. Hal itu pun langsung mendorong VRI untuk membangun jembatan melalui donasi.
“Awalnya ini jembatan dibangun dapat informasi dari warga yang membutuhkan sekali jembatan. Kita langsung tinjau lokasi dan benar. Kebetulan juga ada donatur dari Yayasan Bunda Suci (yayasan kemanusiaan),” kata dia.
Warga pun antusias. VRI bersama relawan lainnya pun mendapat bantuan warga dalam proses pembangunannya. Ditargetkan jembatan ini akan rampung dalam waktu dekat.
“Karena ini non pemerintah yah. Jadi mereka (warga) antusias. Kami juga dibantu dengan relawan yang lain. Jembatan ini dua atau tiga hari lagi selesai. Kondisi sekarang ini 90 persen,” katanya.
Dadan mengungkapkan kegiatan ini merupakan program VRI yakni ekspedisi seribu jembatan gantung untuk Indonesia. Artinya pembangunan jembatan tak hanya dilakukan di lokasi tersebut saja. Melainkan di seluruh Indonesia.
“Kebetulan yang di Carenang ini (Perbatasan Tangerang-Serang) jembatan yang ke- 126. Dan untuk di Banten kita sudah bangun 9 jembatan gantung. Untuk program ini sudah di 16 provinsi,” katanya.
Ridwan berharap pembangunan jembatan yang dilakukan ini dapat membuat kehidupan warga menjadi lebih baik. Terutama dalam melakukan aktivitas sosial, kemanusiaan hingga perputaran ekonomi mereka dapat lebih maksimal. (*)