SATELITNEWS.ID SERANG–Camat Waringinkurung, Warnerry Poetry, akan mengembangkan pertanian melon dengan memanfaatkan lahan tidur. Karena keberadaan lahan kosong katanya, masih banyak.
“Sekarang kita sedang berupaya meningkatkan para petani melon, untuk lebih meluaskan lagi perkebunannya. Karena kemarin, keinginan ibu Bupati yang tadinya luas tanah hanya 5000, bisa ditambah jadi 1 hektar. Memanfaatkan tanah yang belum terpakai, lahn tidur,” kata Warnerry,” Kamis (17/3/2022).
Menurutnya, pemanfaatan tanah dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan para pemilik lahan (sewa). Terlebih ujarnya, keberadaan lahan tidur di wilayah Kecamatan Waringinkurung ini cukup banyak.
“Lahan yang sudah ditanami melon, sekarang ada sekitar 20 titik. Itu rata-rata gabungan kelompok tani (Gapoktan), satu orang yang menanam ada yang 5000 meter hingga satu hektar,” ujarnya.
Untuk kelancaran pengembangan pertanian melon tersebut, Warnerry memastikan, nantinya akan dibantu oleh Dinas Pertanian (Distan) seperti peralatan dan perairan.
“Januari saya sudah mengumpulkan Gapoktan dan Poktan, untuk menginvetarisir masalah-masalah yang ada di Waringinkurung. Terkait dengan yang dibutuhkan oleh para petani, mereka terkendala perairan,” tuturnya.
Baca Juga: Nelayan Normalisasi Sungai Pakai Cangkul, Aktivis Serang Raya: Pemerintah Kemana ?
Sementara, seorang petani melon di Kecamatan Waringinkurung, Budi Sugianto mengatakan, pertanian melon memang sangat menguntungkan, bahkan keuntungannya mencapai dua kali lipat.
“Saya menanam melon dari tahun 2017, tanam melon biaya produksi satu kilo keuntungan bisa sampai satu kilo. Jadi keuntungan dua kali lipat. Harga jual Rp 15.000 per kilogram,” aku Budi.
Ditambahkannya, melon yang ditanamnya jenisnya adalah melon alisa dan korea. “Melon korea harganya jualnya Rp 25.000 per kilogram, dan biaya produksinya Rp 15.000 per pohon. Sedangkan alisa, biaya produksi Rp 12.500 per pohon,” pungkasnya. (sidik)
























