TANPA terasa puasa Ramadan pada tahun 1443 Hijriyah, akan segera datang menjumpai kita. Puasa Ramadan adalah merupakan undangan Allah SWT bagi manusia yang beriman, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Ketakwaan yang dinyatakan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah yang dapat disaksikan secara lahiriah merupakan perwujudan keimanan seseorang kepada Allah SWT. Iman yang terdapat di dalam dada diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah. Oleh sebab itu, kata takwa di dalam Alquran sering dihubungkan dengan kata iman.
Namun sayangnya puasa Ramadan saat ini masih belum berubah dari bulan Ramadan tahun 2021 lalu. Sejak Covid-19 menghantam Indonesia pada awal tahun 2020, kita telah mengalami berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat, baik dari segi sosial, ekonomi, politik, agama, dan lain-lain. Tetapi, kondisi ini menuntut kita untuk terus beradaptasi mengikuti perubahan yang terjadi.
Bulan suci Ramadan tahun ini adalah yang ketiga kalinya dialami umat muslim seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia selama masa pandemi Covid-19. Meskipun kondisi berangsur membaik setelah puncak kasus akibat varian Omicron. Walau dalam kondisi masih mewabahnya Covid-19, kita tetap merasa bergembira dengan hadirnya bulan Ramadan.
Ramadan kali ini sebagai momentum uji kesabaran. Sebabnya, pandemi berdampak segala aspek kehidupan terdampak dan masih ada yang terpapar. Hampir semua aspek kehidupan terdampak akibat pandemi, sehingga dengan berpuasa maka menjadi momentum dalam menguji kesabaran kita.
Hadirnya bulan suci Ramadan harus disambut dengan suka cita? Mengapa harus bersuka cita? Disebabkan bulan Ramadan adalah sepuluh hari pertamanya merupakan awwaluhu rahmah (bulan kasih sayang), sepuluh hari kedua awsatuhu maghfirah (bulan ampunan), dan sepuluh hari terakhir disebut akhiruhu itqun minannar (bulan pembebasan dari siksa api neraka).
Ibadah puasa Ramadan ditujukan untuk membentuk muttaqin (orang bertaqwa). Sedangkan di antara karakter orang bertakwa ialah sibuk bersegera memburu ampunan Allah SWT dan surga seluas langit dan bumi. Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133).6
Setiap Ramadan datang, kita melihat fenomena nilai-nilai ketakwaan sangat terlihat sekali, karena di bulan yang mulia ini nilai-nilai ketakwaan itu muncul sangat jelas perubahan nyata. Kesalehan meningkat tajam seperti tercermin dalam semangat berinfak, suka membantu orang miskin, begitu juga dengan kesalehan setiap orang yang tergambar dari banyaknya ibadah, rajin ke masjid, memperbanyak salat sunnat, membaca Alquran, suka berzikir dan memberikan nasehat-nasehat tentang kesalehan. Pendek kata, kesempurnaan kita tampak dengan indah di bulan yang penuh berkah ini,
Puasa Ramadan menjadikan manusia yang selalu baik dari hari ke hari, apalagi puasa telah mengajarkan kita menjadi lebih baik, lebih disiplin dan bertanggung jawab, meningkatkan moralitas, menjadi orang jujur, peduli terhadap sesame. Itulah Ramadan, banyak hal yang diajarkannya kepada kita. Tentu kita bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk menjalankan puasa Ramdan pada tahun 1443 Hijriyah.
Jika menelaah faidah puasa dalam kitab Maqashid as-Shaum ialah taktsîr al-shadaqât (memperbanyak sedekah). Ketika orang berpuasa merasakan lapar, hal mengingat rasa lapar tersebut yang mendorongnya untuk memberi makan pada orang yang lapar. Sehingga kita memahami rasa lapar dan dahaga puasa dari sudut pandang lain. Jiwa kepekaan sosial kita dilatih dalam bulan Ramadan ini. Perlu keseimbangan kualitas kita sebagai individual di hadapan Allah dengan hakikat kita sebagai mahluk sosial. Jangan sampai mengejar dunia saja dengan melalaikan ukhrawi ataupun sebaliknya.
Dengan kepedulian tersebut, bulan Ramadan menjadi sarana menciptakan kebahagiaan dengan merajut hubungan vertical (hablumminallah) dan hubungan horizontal (hablumminannas) secara seimbang. Penulis menggunakan istilah God Consciuosness (kesadaran ketuhanan/Habluminallah) dan Social Consciuoness (kesadaran sosial/hablum minannas).
Membangun hubungan God Consciuosness yaitu dengan perbanyak dzikir, membaca Alquran, salat malam, tarawih dan lain sebagainya. Sedangkan membangun Social Consciuosness dengan perbanyak sedekah, perbanyak berbuat kebaikan, silahturahim, tidak menggunjing dan lain sebagainya.
Kedua hubungan tersebut harus dilakukan dengan seimbang. Puasa dapat menumbuhkan rasa empati kepada orang fakir miskin, sehingga jika memberikan sedekah akan meringankan beban kebutuhannya. Puasa Ramadan selain ajang meningkatkan keimanan juga meningkat kepedulian. Selain meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT, pentingnya beramaliah sosial serta meningkatkan ukhuwah baik ukhuwah islamiyah, ukhuwah insaniyah, ukhuwah wathaniyah.
Mari di bulan suci ini kita perkuat iman dan takwa kita dan mengejar predikat la’allakum tattaqun. Kita raih pahala berlimpah pada bulan yang penuh potensi untuk berbuat kebaikan. Jadikan momentum bulan suci sebagai peningkatan ketaatan serta keberkahan dan akhirnya memperoleh pengampunan Allah SWT.
Semoga puasa Ramadan 1443 H kita masuki dengan penuh semangat untuk lebih banyak beribadah dan berlomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khoirat) untuk menggapai maghfirah/ampunan dan keberkahan dari Allah SWT. Semoga pandemi Covid-19 tidak menyurutkan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aamiin. (*)
*(Dosen FKIP Universitas Esa Unggul, Ketua DPW FORSILADI Provinsi Banten, Dewan Pakar ICMI Kota Tangerang)