SATELITNEWS.COM, TANGERANG– Memanfaatkan limbah kayu palet sebagai bahan dasar, Paula Theodora selaku owner Daswood Handycraft mampu mengkreasikan kayu-kayu tidak terpakai menjadi kerajinan tangan atau handycraft yang bernilai ekonomis. Bahkan produk buatannya itu telah terjual hingga luar negeri.
Paula yang juga seorang pengusaha packaging pallet bercerita, saat itu dirinya melihat potongan-potongan kayu palet yang tidak terpakai bisa dikonversikan menjadi barang yang berguna dan bernilai. Lalu dirinya memutar otak dan berpikir, sehingga melalui handycraft. Paula pun mampu menghasilkan barang berharga dengan bahan dasar kayu.
“Karena dengan handycraft ini, saya tidak perlu repot-repot cari bahannya, tinggal ambil dari kayu palet yang sudah ada, sehingga ongkos produksinya juga tidak terlalu tinggi,”ungkapnya.
Dirinya yang saat itu belum mengetahui konsep dan bagaimana cara membuat desainnya, mencari tahu secara otodidak melalui internet seperti Google, Youtube dan berbagai macam media sosial lainnya.
“Saya memang belum tahu apa-apa pada saat itu, tapi karena saya mau belajar dan rajin mau mencari informasi terkait kerajinan tangan, akhirnya alhamdulilah sudah bisa menciptakan barang-barang ini,”tuturnya.
Dengan inovasinya, Paula yang juga bekerja sebagai dosen di Utpadaka Swastika itu telah menciptakan kurang lebih 50 jenis produk handycraft seperti nampan, tempat tisu, box perhiasan, box jam tangan, jam dinding, box hampers, tatakan gelas, tatakan mangkok, dan masih banyak lagi produk buatannya yang sudah laku terjual.
Baca Juga: Gubernur Andra Soni Sebut UMKM Jadi Penggerak Perekonomian Masyarakat
“Bahkan ada produk permainan seperti catur yang sudah terkirim sampai ke negara Belanda,”ujarnya.
Bicara soal harga, dirinya mematok harga sesuai dengan tingkat kesulitan dan banyaknya bahan dasar kayu yang dipakai. Harganya pun bermacam-macam, mulai dari 10 ribu hingga Rp 3 juta. Sedangkan untuk omzet, Paula bisa meraup untung hingga Rp 50 juta per bulan.
“Kalo untuk omzet sih itu variatif, kalo lagi ramai itu kadang-kadang bisa mencapai 30 juta sampai Rp 50 juta perbulan, tapi kalo lagi sepi paling hanya 15 juta perbulan,”ucapnya.
Dalam proses kreatifnya, Paula tidak bekerja sendirian, dirinya dibantu oleh pegawainya yang telah ia didik dari nol, sehingga kini bisa menciptakan sebuah produk kerajinan tangan yang berkualitas.
“Sampai saat ini total sudah ada 15 pegawai yang saya pekerjakan untuk handycraft dan saya senang karena mereka mau belajar dan semangatnya itu sangat tinggi,”terangnya.
Sementara salah satu pegawai yang sudah bekerja 1,5 tahun yakni Zema mengaku senang bisa bekerja di Daswood Handycraft. Dirinya yang dulu tidak tahu sama sekali dengan kerajinan tangan kini bisa membuat produk bernilai hasil dari buah tangannya.
Baca Juga: Festival Muharram Cengkok Padukan Layanan Publik dan Pemberdayaan UMKM
“Memang awalnya agak sulit melakukannya, tapi seiring berjalannya waktu dan dibimbing oleh bu Paula, saya bisa membuat produk-produk handycraft ini,”tandasnya. (mg05)
























