SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar langka di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) wilayah Kabupaten Tangerang bagian Barat. Akibatnya, antrean truk mengular di Jalan Raya Serang, Selasa (19/12) malam. Kelangkaan ini memicu munculnya dugaan adanya mafia yang menimbun solar di Kabupaten Tangerang.
Salah satu sopir truk tambang, Armudi mengaku kesal lantaran sudah beberapa kali berhenti di SPBU Serang menuju Kabupaten Tangerang, dirinya selalu kesulitan membeli solar. Selain dinyatakan kosong, sekalipun ada, katanya dia harus mengantre sampai berjam-jam lamanya.
“Akhir-akhir ini, tiap mau isi solar kosong terus. Pas mau isi di Serang kosong, ini di Jayanti antreannya panjang banget,” katanya.
Armudi pun merasa heran, meskipun kelangkaan kerap terjadi, namun dua bulan terakhir ini kekosongan solar sangat parah. Sehingga dirinya terpaksa beralih menggunakan Dexlite, yang harganya dua kali lipat dari harga solar subsidi. Armudi menduga, adanya peran mafia dalam kelangkaan BBM bersubsidi jenis solar tersebut.
“Kalau lagi dikejar waktu operasional, ya mau nggak mau isi Dexlite yang harganya Rp15.550 per liter. Itupun kadang masih antre juga. Sepertinya, (diduga) ada mafia yang melakukan penimbunan sehingga terjadi kelangkaan,” ujarnya.
Pengendara lainnya, yang menggunakan mobil pribadi, Andi menambahkan, bahwa dia harus berputar-putar mencari SPBU hanya untuk bisa mendapatkan Solar. Padahal, kata dia secara regulasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sudah jelas, disitu terdapat ketentuan konsumen yang tidak terdaftar (Non Register) dengan yang sudah terdaftar (Register) dalam mendapatkan solar subsidi.
Baca Juga: 3 Pelajar Ditangkap Buntut Kematian 2 Remaja di Alam Sutera
“Setahu saya pengisian Solar kan ada aturannya. Jadi harusnya nggak terjadi kelangkaan,” tuturnya.
Andi menjelaskan, berdasarkan ketentuan baru batas maksimal untuk kendaraan yang tidak terdaftar itu hanya 20 liter per hari. Sedangkan, untuk yang telah terdaftar bagi kendaraan roda empat (mobil) pribadi dibatasi 60 liter per hari. Lanjutnya, angkutan umum orang atau barang roda empat, maksimal 80 liter. Lalu angkutan umum roda enam itu sebanyak 200 liter per hari.
“Nah, kalau sampai bisa ada kelangkaan ini kan faktornya apa gitu, apa ada mafia Solar?,” katanya.
Fenomena antrean panjang kendaraan muatan barang ataupun tambang itu, terlihat di beberapa SPBU. Diantaranya SPBU Bugel Tigaraksa, Cibadak, Gembong, Pos Sentul, Balaraja dan Jayanti. Bahkan hingga wilayah Serang Banten.
Sementara itu, salah satu petugas SPBU Jayanti, Entus mengatakan, bahwa dalam dua bulan terakhir ini telah terjadi kelangkaan BBM bersubsidi jenis solar. Bahkan, sekalinya adapun tidak membutuhkan waktu yang lama, karena langsung habis dibeli oleh sopir-sopir truk yang melintas.
Entus juga mengatakan, akibat kelangkaan solar tersebut, sering terjadi antrean truk yang panjang untuk mengisi BBM jenis solar di SPBU yang dijaga.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Dorong UMKM Segera Urus Sertifikasi Halal
“Memang sudah dua bulan ini BBM jenis solar langka. Sekalipun ada, tidak lama langsung habis. Bahkan sampai ada yang tidak kebagian,” kata Entus kepada Satelit News, Selasa (19/12) malam.
Menurut Entus, terjadinya kelangkaan BBM bersubsidi jenis solar, dikarenakan pendistribusian solar dari Pertamina Gerem Merak tidak menentu. Biasanya, kata dia, BBM jenis solar dikirim sebanyak 32 ribu liter per hari, tetapi saat ini hanya dikirim 8 ribu liter per hari. Akibatnya, terjadi kelangkaan BBM bersubsidi jenis solar.
Menurutnya, untuk menekan angka kelangkaan solar, pasokan solar sempat dibantu Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara. Namun, tetap saja masih terjadi kelangkaan.
“Normalnya, 32 ribu liter per hari. Saat ini hanya 8 ribu liter per hari. Kalau hanya 8 ribu liter, satu jam pun sudah ludes diborong sopir truk. Sedangkan truk-truk lainnya sudah pada nunggu dari tadi,” tandasnya.(alfian/aditya)





















