SATELITNEWS.COM, LEBAK– Seorang warga suku Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, dilaporkan meninggal dunia usai dipatuk ular tanah. Dugaan sementara meninggalnya warga tersebut akibat telat tertangani.
Berdasarkan informasi, meninggalnya warga suku adat Baduy tersebut saat membersihkan lahan di kebun di kawasan Baduy Luar. Jarak tempuh lokasi kejadian membuat pasien tersebut terlambat ditangani.
Minimnya ketersediaan Serum Anti Bisa Ular (SABU) di Puskemas dan di RSUD Adjidamro, pasien harus dibawa ke RSUD Banten, Serang. Namun nasib berkata lain, setibanya di RSUD Banten, pasien tersebut langsung masuk ke ruang ICU dan meninggal dunia pada Rabu 5 Maret 2025.
Ketua Sahabat Relawan Indonesia (SRI) Muhammad Arif Kirdiat mengatakan, pasien yang digigit ular tersebut merupakan warga Kampung Cisadane, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.
“Dia tengah membersihkan lahan di kebun di kawasan Baduy Luar saat digigit ular tanah, lokasinya di pedalaman. Kondisi saat itu sudah menghitam, harus segera ada obat-obatan yang masuk, sementara akses dari lokasi pasien ke puskesmas terdekat butuh beberapa jam dengan berjalan kaki,” kata Arif melalui telepon selulernya.
Saat itu, pasien langsung dibawa ke RSUD Banten di Serang, karena alasan agar bisa ditangani menggunakan Serum Anti Bisa Ular (SABU). Hal tersebut terpaksa dilakukan lantaran kata Arif, ketersediaan SABU di Puskesmas Cisimeut maupun di RSUD dr Adjidarmo Rangkasbitung kosong.
Baca Juga: Korwil BGN Lebak Apresiasi Sinergi Elemen Masyarakat Kawal Program MBG
Alasan lain dibawa ke Serang, sambung Arif, pasien tidak punya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sehingga tidak bisa ditangani di Lebak.
“Pasien digigit ular yang dia bawa ke RSUD dr Adjidarmo ditolak karena tidak punya BPJS. Kalau ke RSUD Banten pelayanan lebih mudah, pasien akan ditangani lebih dulu, administrasi belakangan,” kata Arif berdasarkan pengalamannya.
Setibanya di RSUD Banten, pasien tersebut langsung masuk ke ruang ICU dan meninggal dunia pada Rabu 5 Maret 2025. Arif mengatakan, pasien mungkin akan selamat jika lebih cepat mendapat SABU dari Puskesmas Cisimeut sehingga tidak harus ke Serang.
“Sayangnya di puskesmas persediaan SABU tidak ada, padahal kasus digigit ular ini banyak terjadi di Baduy dan kerap terulang,” ujar dia.
Arif menyebut kasus warga Baduy digigit ular banyak terjadi di Baduy. Apalagi saat musim hunan dimana warga Basuy membuka lahan baru untuk berladang.
Tahun 2025 saja, kata Arif, sudah ada enam kasus warga Baduy yang digigit ular dimana satu di antaranya meninggal dunia. Adapun rata-rata setiap tahun, tambah Arif, terdapat 20 hingga 40 kasus warga Baduy tergigit ular.
Baca Juga: Warga Bogor Tewas Tergantung di Tambang Pasir Lebak
Namun Arif menyayangkan, kasus ini belum dipandang serius oleh Pemerintah Kabupaten Lebak. “Buktinya, warga yang digigit ular masih sulit mendapatkan SABU sehingga banyak yang tidak tertangani,” pungkasnya.(mulyana)
