SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG– Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Banten kekurangan personel. Hingga saat ini, lembaga tersebut hanya memiliki 100 personel, sedangkan idealnya sebanyak 500 personel.
Ketua Balawista Banten Ade Ervin mengatakan, selama ini pihaknya masih kekurangan personel untuk melakukan pengamanan dan penjagaan di semua lokasi pantai di Banten. Penyebab hal itu, karena keterbatasan anggaran Pemprov Banten tepatnya di Dinas Pariwisata Banten.
“Personel kita hanya ada seratusan orang, sedangkan idealnya itu bisa sampai lima ratusan orang. Kenapa hanya seratus, karena memang ada kendala atau ada keterbatasan anggaran untuk menambah personel Balawista,” katanya, Selasa (1/4/2025).
Dia menerangkan, siaga wisata adalah sebuah program yang diampu oleh Dinas Pariwisata Provinsi Banten dengan menggandeng Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan wisatawan di destinasi wisata.
“Salah satu tugas kita adalah meningkatkan Keselamatan wisatawan, siaga wisata bertujuan untuk meningkatkan keselamatan wisatawan dengan menyediakan layanan darurat dan bantuan dalam situasi darurat,” katanya.
“Kemudian meningkatkan kualitas pelayanan wisata, siaga wisata juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan wisata dengan menyediakan informasi dan bantuan kepada wisatawan,” sambungnya.
Baca Juga: Dispar, DPRD Banten Bersama Pemkab Tangerang Gelar Buka Puasa dan Santunan 1.000 Anak Yatim
Ade mengatakan, siaga wisata melakukan pengawasan dan pengamanan di destinasi wisata untuk memastikan keselamatan wisatawan, serta menyediakan layanan darurat seperti pertolongan pertama, evakuasi, dan komunikasi dalam situasi darurat.
“Siaga wisata menyediakan informasi tentang destinasi wisata, cuaca, dan situasi darurat kepada wisatawan,” katanya.
Ade mengatakan, beberapa upaya yang dilakukan dalam melaksanakan Program Siaga Wisata yakni dengan menjalin kerja sama antar pemangku kepentingan, penggunaan teknologi, pelatihan, dan sosialisasi
“Siaga Wisata dilaksanakan dengan kerja sama antara, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya. Kemudian kita juga menggunakan teknologi seperti aplikasi mobile dan sistem informasi geografis untuk memantau dan mengatur kegiatan wisata,” katanya.
“Selain itu, kita juga melakukan pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat dan stakeholder tentang keselamatan wisata dan pelayanan wisata,” tutupnya.(adib)
